Produsen otomotif asal China, Geely, kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kendaraan dengan bahan bakar alternatif metanol. Langkah ini terbilang menarik, mengingat di saat yang sama kendaraan listrik berbasis baterai tengah tumbuh pesat baik di China dan secara global. Sebagai informasi, metanol merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Cairan ini berwarna bening, mudah menguap, dan kerap digunakan sebagai pelarut industri, bahan bakar, hingga antibeku. Ketua Geely, Li Shufu, mengatakan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai lithium dapat memiliki bobot hingga dua kali lebih berat dibandingkan kendaraan berbahan bakar metanol di kelas yang sama. Geely EX2 Dilansir dari Carnewschina, perbedaan bobot dinilai menjadi faktor penting dalam efisiensi kendaraan, terutama untuk penggunaan tertentu. Menurut Li, metanol memiliki kepadatan energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan baterai lithium-ion, bahkan diklaim bisa lebih dari 10 kali lipat. Dengan demikian, kendaraan berbahan bakar metanol dinilai mampu membawa kapasitas angkut yang setara, tetapi dengan bobot yang lebih ringan. Selain itu, bobot kendaraan yang lebih ringan juga berdampak pada konsumsi energi yang lebih efisien, khususnya untuk kendaraan niaga atau angkutan berat yang membutuhkan daya besar. Meski demikian, Li mengakui bahwa kendaraan listrik berbasis baterai telah berkembang pesat dan digunakan secara luas di China. Namun, menurutnya, masih terdapat ruang bagi teknologi alternatif untuk terus berkembang. Geely Starray EM-i Kebijakan Pemerintah Di sisi lain, pengembangan bahan bakar alternatif di China juga mendapat dukungan dari pemerintah, tidak hanya untuk kendaraan listrik berbasis baterai atau new energy vehicle (NEV) seperti PHEV. Hal ini tercermin dari kebijakan percepatan transisi ekonomi hijau yang dirilis pada Juli 2024. Dalam kebijakan tersebut, pemerintah mendorong pembangunan berbagai infrastruktur energi, mulai dari pengisian daya listrik, penukaran baterai, hingga pengembangan hidrogen dan metanol. Sejak Lama Geely telah mengembangkan teknologi kendaraan berbahan bakar metanol selama lebih dari dua dekade. Teknologi metanol juga sudah mulai diterapkan pada kendaraan produksi massal. Salah satunya melalui pengembangan sedan Galaxy Starshine 6 versi plug-in hybrid berbahan bakar metanol, yang dibekali mesin 1.5 liter. Geely EX2 Di samping itu, Geely juga menguji teknologi ini di dunia balap. Mesin yang digunakan disebut kompatibel penuh dengan bahan bakar metanol M100, sehingga dapat digunakan untuk menguji performa dalam kondisi ekstrem. Kendaraan Berat Menurut Li, kendaraan berbahan bakar metanol lebih cocok digunakan pada sektor transportasi komersial dan kendaraan berat. Pasalnya, sektor ini sangat mempertimbangkan bobot kendaraan, biaya operasional, serta emisi. Dengan demikian, metanol dinilai mampu memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya sekaligus membantu menekan emisi karbon, terutama jika diproduksi dari sumber energi terbarukan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang