Pilihan mobil ramah lingkungan di Indonesia kini semakin beragam, tidak lagi terbatas pada satu jenis teknologi. Ada Geely EX2 yang mewakili mobil listrik murni (BEV) dan Daihatsu Rocky e-Smart yang mengusung teknologi hybrid (HEV). Apalagi dengan adanya kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kembali memberikan pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) khusus untuk mobil listrik, daya tarik BEV pun semakin kuat. Namun, apakah urusan biaya kepemilikan hanya soal energi dan pajak? Geely EX2 Bicara soal konsumsi energi, berdasarkan pengujian redaksi dengan rute kombinasi Jakarta-Cibodas, EX2 mencatatkan konsumsi daya 11,6 kWh per 100 km atau setara 8,6 km per kWh. Jika mobil ini digunakan sejauh 15.000 km dalam satu tahun, maka total daya yang dibutuhkan sekitar 1.744 kWh. Menggunakan asumsi tarif listrik rumah tangga non-subsidi Rp 1.699 per kWh, biaya cas yang dikeluarkan pemilik hanya sekitar Rp 2.963.056. Keunggulan makin terasa pada urusan pajak tahunan karena PKB untuk mobil listrik di Jakarta adalah Rp 0, sehingga pemilik cukup membayar SWDKLLJ sebesar Rp 143.000. Jika ditotal, biaya operasional dasar EX2 dalam setahun berada di angka Rp 3.106.056. Di sisi lain, Rocky Hybrid mencatatkan konsumsi bahan bakar yang sangat impresif di angka 24,6 km per liter. Untuk menempuh jarak yang sama, yakni 15.000 km, dibutuhkan BBM sebanyak 609,7 liter. Dengan patokan harga Pertamax di Mei 2026 yang berada di angka Rp 12.300 per liter, biaya bensin dalam setahun mencapai Rp 7.499.310. Berbeda dengan mobil listrik murni, Rocky Hybrid masih dikenakan pajak tahunan normal dengan estimasi PKB sekitar Rp 3.000.000 ditambah SWDKLLJ Rp 143.000. Alhasil, total biaya operasional tahunan mencapai sekitar Rp 10.642.310. Konsumsi BBM Daihatsu Rocky Hybrid Meski dari sisi hitungan angka EX2 menawarkan kehematan yang jauh lebih signifikan, Rocky Hybrid memiliki kelebihan yang sulit ditandingi mobil listrik saat ini, yaitu kemudahan infrastruktur. Pemilik mobil hybrid tidak perlu mengalami range anxiety atau kekhawatiran kehabisan daya di tengah jalan karena jaringan pengisian BBM sudah sangat luas hingga ke pelosok. Untuk perjalanan jarak jauh, hybrid memberikan kepraktisan luar biasa tanpa perlu antre di SPKLU atau merencanakan rute berdasarkan titik pengisian daya listrik. Selain kepraktisan, faktor jaringan purna jual atau aftersales juga menjadi pertimbangan krusial. Daihatsu sebagai brand yang sudah lama bercokol di Indonesia memiliki jaringan diler dan bengkel resmi yang sangat luas, memberikan peace of mind bagi pemiliknya. Geely EX2 Max dipakai dalam perjalanan dari Jakarta ke Cibodas Sebaliknya, Geely yang merupakan pemain baru tentu masih dalam tahap membangun jaringan diler. Meskipun mobil listrik dikenal minim perawatan, kemudahan akses ke bengkel resmi tetap menjadi faktor penentu bagi konsumen yang menginginkan jaminan servis yang mudah dijangkau dan terpercaya. Kesimpulannya, jika prioritasnya adalah memangkas biaya operasional harian serendah mungkin, Geely EX2 dengan segala insentif pajak dari Pemprov DKI adalah pemenangnya. Namun, jika sering melakukan perjalanan jarak jauh dan mengutamakan ketenangan pikiran berkat jaringan bengkel yang luas serta kemudahan mengisi bahan bakar, Daihatsu Rocky Hybrid tetap menjadi pilihan yang sangat rasional di era transisi energi ini. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang