Ekspansi kendaraan listrik ke daerah dinilai belum bisa sepenuhnya mengandalkan mobil listrik murni. Infrastruktur pengisian daya yang belum merata masih menjadi tantangan utama, sehingga strategi transisi dianggap lebih realistis untuk mendongkrak volume penjualan. CEO PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto), diler resmi BYD dan Denza, Hariyadi Kaimuddin mengatakan, pembukaan diler di sejumlah kota luar Jawa tetap dilakukan meski penjualan awalnya masih terbatas. Saat ini, perusahaan telah membuka jaringan di Palu, Kendari, dan Manado. “Sekarang kami besar di Sulawesi. Palu, Kendari, Manado kami sudah buka. Itu paling jual sekarang berapa? Sepuluh. Tapi kalau kita bandingkan pasarnya, merek kami yang dulu itu jualannya ratusan,” ujar Hariyadi di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026). BYD Seal 05 DM-i Ia mengakui angka tersebut memang belum signifikan. Namun menurutnya, ekspansi ke daerah merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem dan kesiapan pasar kendaraan listrik BYD dan Denza di luar kota besar. Seiring bertambahnya model kendaraan serta pengembangan infrastruktur, perusahaan meyakini potensi pasar akan ikut tumbuh. Dalam jangka pendek, model plug-in hybrid (PHEV) dinilai lebih realistis untuk menopang volume di daerah. “Untuk volume dalam waktu dekat adalah plug-in hybrid. Kalau daerah, saya percaya kita masih butuh waktu yang panjang untuk bisa siapkan infrastruktur,” katanya. Teknologi PHEV dianggap lebih fleksibel karena tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Konsumen tetap dapat menggunakan mesin konvensional ketika fasilitas pengisian daya belum memadai. Meski demikian, Hariyadi tetap optimistis mobil listrik murni (EV) pada akhirnya akan mendominasi pasar ketika infrastruktur sudah siap dan teknologi semakin matang. “Ke depannya mungkin akan geser ke EV yang akan lebih besar, setelah infrastruktur siap. Syaratnya kan infrastruktur siap, teknologi makin canggih,” ujarnya. Menurut dia, dari sisi efisiensi jangka panjang, kendaraan listrik murni juga lebih sederhana karena tidak memiliki dua sistem penggerak seperti pada PHEV. “Buat apa lagi pakai dua penggerak sih? Itu kan boros sebenarnya. Kalau bisa satu penggerak saja, operasional jauh lebih murah,” kata Hariyadi. Ia kemudian mencontohkan dinamika pasar di China sebagai gambaran perubahan tren tersebut. Pada 2024, kontribusi penjualan PHEV di pasar domestik China sempat mencapai hampir 60 persen, sementara EV sekitar 40 persen. Namun pada 2025, tren tersebut kembali berubah. “Terjadi pergeseran perubahan tren. EV naik lagi, PHEV relatif stagnan. Jadi sudah 50-50 lagi sekarang,” ujarnya. Menurutnya, perubahan itu terjadi seiring semakin lengkapnya infrastruktur pengisian daya di China sehingga konsumen merasa lebih nyaman menggunakan mobil listrik murni. “Kalau kita lihat karena infrastruktur di China sudah makin lengkap, sehingga orang sudah makin nyaman saja pakai EV. Cuma itu kan di China, dengan kondisi yang beberapa tahun bangun,” ucapnya. Fenomena tersebut dinilai menjadi gambaran bahwa arah pasar kendaraan listrik sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur. Indonesia pun berpotensi mengalami pola serupa, di mana PHEV menjadi fase transisi sebelum akhirnya EV mendominasi ketika ekosistem pendukung sudah matang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang