Hyundai termasuk salah satu pelopor mobil listrik. Pabrikan Korea Selatan ini bahkan pernah merasakan menjadi pemimpin pasar mobil listrik di Indonesia. Diawali dengan Kona Electric dan Ioniq Electric, Hyundai membuka segmen mobil listrik di Indonesia. Pada PEVS 2025, booth BYD dan DENZA menempati satu area seluas 800 m² yang terintegrasi di Hall B3, booth A5. Kemudian, dominasi tersebut dilanjutkan dengan Ioniq 5. Selain itu, ada juga New Kona Electric, Ioniq 6, dan Ioniq 5 N. Invasi China Namun, semua itu berubah ketika pabrikan China datang. Proses produksi mobil listrik Hyundai Kona EV di pabrik Ulsan, Korea Selatan Invasi dari Tiongkok menggeser Hyundai dari puncak pasar mobil listrik nasional. Presiden Direktur Hyundai Motors Indonesia, Ju Hun Lee, mengatakan bahwa beberapa tahun lalu pihaknya yang memimpin pasar EV di Indonesia. Mobil listrik Hyundai Ioniq 6 Pada saat itu, Hyundai sangat percaya bahwa Pemerintah Indonesia akan mendukung baterai berbasis nikel. "Seperti yang Anda tahu, baterai berbasis nikel jauh lebih mahal daripada LFP (Lithium Ferro Phosphate)," ujar Lee kepada wartawan saat ditemui di Tangerang, belum lama ini. Booth Wuling "Indonesia sangat kaya akan nikel, jadi kami bisa memanfaatkan nikelnya, kami membuat baterai, dan kami gunakan baterai tersebut pada mobil listrik, sehingga semua orang senang," kata Lee. Menurut Lee, strategi tersebut menguntungkan kedua belah pihak, yaitu Pemerintah Indonesia dan Hyundai. Diskon Hyundai Ioniq?5 di GIIAS 2025. "Kami jual mobil listriknya ke orang Indonesia, kami menghasilkan uang. Kami juga bisa mengekspor mobil listrik dari Indonesia ke negara-negara ASEAN, Asia Pasifik, negara-negara Barat, Amerika Selatan dan Tengah, serta negara-negara di Timur Tengah," ujarnya. "Kami sekarang mengekspor itu. Soal ekspor, tidak masalah. Tapi, pasar domestik, kami menghadapi tantangan," ujar Lee. Baterai mobil listrik buatan LG-Hyundai "Dengan baterai LFP, pabrikan China menginvasi negara ini. Mereka tidak pernah menggunakan sumber daya dari Indonesia. Itu adalah kesalahan kami, karena kami tidak mengkalkulasi situasi seperti itu. Jadi, itu masalahnya," kata Lee. Alasan-alasan tersebut, menurut Lee, membuat Hyundai kehilangan posisi sebagai pemimpin pasar mobil listrik di Indonesia dari pabrikan China. Teknologi Blade Battery yang digunakan BYD "Tapi, saya pikir kami harus menerima itu. Jadi, kami perlu bersiap-siap untuk langkah berikutnya. Saya tidak bisa memberitahu secara detail, tapi kami sedang meninjaunya," ujar Lee. "Satu-satunya hal yang bisa saya pastikan, kami akan melakukan bisnis di Indonesia. Kami tidak melihat jangka pendek. Indonesia akan menjadi salah satu negara yang sangat penting di dunia," kata Lee. Menurut Lee, Indonesia memiliki potensi, kemampuan, sumber daya alam, populasi yang besar, serta tanah yang luas dan banyak pulau. "Bagaimana pun juga, kami akan menemukan cara untuk menjalankan bisnis di Indonesia. Maaf, saya tidak memiliki jawaban itu sekarang. Saya hanya menjelaskan prosesnya, mengapa kami kehilangan kepemimpinan di Indonesia," ujarnya. Banyak pabrikan China yang mengandalkan mobil listrik dengan baterai LFP. Namun, Lee menegaskan bahwa LFP adalah material yang tidak ramah lingkungan. "Sangat sulit untuk menggunakan ulang baterai tersebut. Jadi, baterai berbasis nikel lebih baik," ujar Lee. "Kami terus menyarankan kepada Pemerintah Indonesia. Anda harus meningkatkan industri nikel, untuk ekonomi dan lingkungan. Jadi, kami terus berbicara dengan Pemerintah Indonesia," kata Lee. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang