Baterai merupakan komponen utama pada mobil hybrid yang sangat memengaruhi performa dan efisiensi kendaraan. Seiring meningkatnya penggunaan mobil hybrid sebagai kendaraan harian, pemilik perlu memahami kondisi baterai yang bisa dipantau sejak dini melalui sistem elektronik bawaan mobil. Lung Lung pendiri Dokter Mobil, mengatakan, ada sejumlah kendaraan yang sudah memiliki sensor atau monitor untuk memberitahu jika ada gangguan pada baterai mobil hybrid. “Mobil hybrid dan Electric Vehicle (EV) punya ECU yang lebih bagus dari mobil biasa, dan itu butuh scanner khusus untuk baca data. ECU itu biasanya sudah dibekali dengan battery monitoring system, seperti Toyota dan Lexus itu sudah ada,” kata Lung Lung, kepada Kompas.com, baru-baru ini. Tampilan layar display (MID) New Veloz Hybrid Sistem pemantauan baterai pada mobil hybrid mampu mendeteksi berbagai kondisi tidak normal dan memberi peringatan kepada pengemudi sejak dini. “Jadi mereka bisa kasih tahu saat baterai kepanasan, overheat atau kapasitas baterai tinggal berapa persen. Check engine-nya akan menyala, baru setelah itu kita bongkar dan tes satu per satu baterai mana yang harus diganti,” kata Lung Lung. Ia menjelaskan, baterai mobil hybrid biasanya terdiri dari kepingan yang disusun memanjang. Ketika mengalami kerusakan, biasanya akan menimpa kepingan yang berada di tengah. “Sel baterai di tengah itu lebih cepat rusak, karena lebih panas, angin itu kan masuknya lewat ujung-ujung. Itu berlaku bagi semua mobil,” kata Lung Lung. Selain itu, Lung Lung mengatakan, untuk menjaga performa dan usia baterai mobil hybrid yang terpenting adalah menjaga suhu agar tetap sejuk. “Paling penting AC setel ke paling dingin, (blower-nya) tidak usah paling kencang, tidak apa-apa. Karena baterai dapat pendinginnya itu dari AC, sehingga bisa mempertahankan lifetime baterai mobil listrik lebih lama,” kata Lung Lung. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang