Umumnya, baterai mobil hybrid dinilai lebih awet dibanding baterai mobil listrik murni. Hal ini tak lepas dari bebban kerjanya. Mobil hybrid tak menjadikan baterai dan motor listrik sebagai satu-satunya sumber tenaga mobil, sehingga beban kerja lebih ringan. Sujaka, Area Manager Area 3 dan Branch Manager Nasmoco Slamet Riyadi Solo, mengatakan letak baterai pada mobil hybrid berada di dalam kendaraan sehingga lebih awet. “Letak baterai ada di atas lantai dasar mobil, di bawah jok penumpang, sehingga lebih terlindungi dari ancaman seperti genangan air dan hujan,” ucap Jaka kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan sistem pengisian baterai pada mobil hybrid tak melibatkan tangan manusia, sehingga akan lebih aman. “Artinya, pada mobil hybrid manajemen baterainya diatur oleh sistem, pengisian tak akan sampai terlalu penuh dan menggunakan rentang arus yang aman, tak akan kena fast charging,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Jumat (23/1/2026). Ilustrasi baterai mobil hybrid. Pengisian baterai memiliki rentang aman yaki sekitar 80-90 persen, tak sampai penuh. Kebanyakan pengguna akan puas bila mengisi baterai sampai 100 persen penuh. “Padahal itu tidak perlu, zona aman pengisian baterai sekitar 20 persen sampai 90 persen, tak terlalu penuh dan tak sampai habis, di mobil hybrid ini diterapkan secara otomatis,” ucap Jayan. Mobil hybrid tidak pakai arus listrik tinggi, seperti pada DC fast charging. Pengisian mengandalkan self charging dari komponen internal yakni regenerative braking dan mesin bensin. “Pengisian dengan arus rendah, akan membuat baterai terhindar dari panas, sehingga degradasi lambat,” ucap Jayan. Maka dari itu, mobil listrik murni (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV) juga perlu menerapkan prinsip pengisian tersebut, agar usia pakai baterai lebih awet. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang