Membeli mobil bekas tidak bisa lagi disamakan antara kendaraan konvensional dengan mobil hybrid. Selain mesin dan kaki-kaki, mobil hybrid memiliki sistem kelistrikan dan baterai bertegangan tinggi yang membutuhkan pengecekan lebih mendalam sebelum diputuskan untuk dibeli. Menurut Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, perbedaan paling mendasar terletak pada komponen inti penggerak dan sistem pendukungnya. Pada mobil konvensional, fokus pengecekan masih berkutat pada kondisi mesin, transmisi, dan riwayat perawatan. Sementara pada mobil hybrid, pemeriksaan harus meluas hingga baterai dan sistem kelistrikan. “Yang paling krusial di mobil hybrid itu baterainya. Ini komponen termahal dan risikonya paling besar kalau kondisinya sudah menurun,” kata Lung Lung kepada Kompas.com, Jumat (23/1/2026). Ia menjelaskan, pada mobil konvensional, pengecekan mesin bisa dilakukan lewat suara, getaran, hingga respons akselerasi. Namun pada mobil hybrid, mesin tidak selalu aktif karena bisa hidup dan mati mengikuti sistem kerja motor listrik, sehingga kondisi internal mesin tidak selalu mudah terdeteksi secara kasat mata. Selain baterai, sistem pengisian daya juga menjadi perhatian utama. Lung Lung menyarankan calon pembeli untuk memastikan output pengisian baterai dari mesin masih sesuai standar pabrikan, karena gangguan pada sistem ini dapat berdampak langsung pada performa dan usia baterai. “Kelistrikan harus dicek pakai alat. Dari situ bisa kelihatan baterai masih berapa persen, ngecasnya normal atau tidak, sampai output motornya,” ujarnya. Pengecekan riwayat servis juga menjadi faktor penting dalam pembelian mobil hybrid bekas. Lung Lung menekankan, mobil hybrid idealnya memiliki catatan perawatan di bengkel resmi, mengingat hingga saat ini tidak semua bengkel umum memiliki kompetensi dan peralatan untuk menangani sistem hybrid. Firzie Idris, pengguna Wuling New Almaz Hybrid Berbeda dengan mobil konvensional yang relatif fleksibel soal bengkel, mobil hybrid membutuhkan software dan peralatan khusus untuk melakukan diagnosa. Salah satunya melalui pemindaian OBD untuk memastikan tidak ada error tersembunyi pada sistem. “Scan OBD itu wajib. Dari situ kita bisa lihat kondisi baterai secara live, power yang tersisa, dan apakah softwarenya masih update atau tidak,” ucapnya. Ia juga mengingatkan agar calon pembeli memahami harga komponen utama sebelum bernegosiasi. Harga baterai baru yang tinggi seharusnya menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan nilai wajar mobil hybrid bekas. “Kalau baterai sudah di luar garansi, harga gantinya harus jadi patokan saat nawar. Jangan samakan logikanya dengan mobil konvensional,” kata Lung Lung. Dengan perbedaan karakter dan risiko tersebut, Lung Lung menyarankan agar pembelian mobil hybrid bekas dilakukan dengan lebih hati-hati dan melibatkan bengkel yang benar-benar memahami sistem hybrid secara menyeluruh. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang