Membeli mobil bekas, apalagi yang bertransmisi otomatis, memang butuh ketelitian ekstra. Tampilan luar bisa menipu, dan odometer yang terlihat “rendah” belum tentu jadi jaminan kondisi transmisinya masih prima. Budi Novianto, pemilik bengkel spesialis transmisi Cakrawala Matic Solutions di Cibinong, menjelaskan, langkah pertama saat membeli mobil matik bekas adalah menelusuri riwayat perawatan kendaraan. “Yang pertama, perhatikan riwayat mobilnya. Sebaiknya beli dari orang yang kita kenal, atau dari pemilik yang bisa dipercaya dan rajin merawat mobilnya,” ujar Budi, kepada Kompas.com (3/11/2025). Ilustrasi transmisi otomatis Selain itu, waspadai odometer palsu. Menurut Budi, praktik memundurkan jarak tempuh masih sering terjadi. “Sekarang memundurkan odometer itu sangat mudah. Banyak kasus mobil dijual dengan odometer 100.000 km, padahal aslinya sudah lebih dari 200.000 km,” katanya. Ia mencontohkan, beberapa mobil yang datang ke bengkelnya kerap mengalami kerusakan transmisi, padahal jarak tempuhnya terlihat masih rendah. Overhaul transmisi matik “Saya sering menemui kasus Hyundai H1 yang katanya baru 100.000-an kilometer, tapi transmisinya sudah bermasalah. Padahal H1 yang kilometernya masih di bawah 170.000 km jarang sekali rusak transmisinya,” jelas Budi. Beberapa tanda fisik juga bisa jadi petunjuk bahwa mobil sudah menempuh jarak jauh, seperti setir yang licin atau pedal gas dan rem yang aus. Selain itu, bagi pembeli yang ingin lebih yakin, test drive singkat bisa membantu. “Rasakan saja tarikan dan perpindahan giginya. Kalau terasa halus dan tidak ada entakan kasar, berarti kondisinya masih bagus,” ujar Budi. Ilustrasi deretan mobil bekas di Rapih Motor, MGK Kemayoran Namun, untuk hasil lebih akurat, ia menyarankan menggunakan jasa inspektor atau bengkel yang memiliki alat scanner. “Dengan scanner, kita bisa memeriksa ECU dan TCM untuk melihat apakah ada DTC (Diagnostic Trouble Code) atau error tersembunyi. Kadang indikator check engine tidak menyala, tapi sebenarnya ada masalah yang hanya bisa dibaca lewat alat scanner,” kata Budi. “Sayangnya, masih banyak orang membeli mobil karena tergiur harga murah, padahal kondisinya tidak layak. Akhirnya mobil yang harusnya dipakai buat bersenang-senang malah jadi beban karena butuh banyak perbaikan,” ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.