Pasar mobil bekas yang terus bergerak dinamis, satu pola yang hampir selalu ditemui adalah selisih harga cukup signifikan antara mobil bertransmisi manual dan matik. Model manual cenderung dibanderol lebih murah, sementara matik tetap menjadi primadona, terutama di kota-kota besar. Andi, pemilik showroom Jodry Mobil di Kemayoran, mengatakan kondisi ini bukan tanpa alasan. Tren belajar mengemudi yang kini lebih banyak menggunakan mobil matik ikut mendorong preferensi konsumen ke arah yang sama. “Jaman sekarang kebanyakan belajar mobilnya matik jarang manual. Biasanya mobil manual dipakai di daerah pegunungan, kalau daerah perkotaan kebantakan matik,” kata Andi, saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/11/2025). Fenomena ini membuat permintaan terhadap mobil manual terus mengecil, terutama di kawasan urban. Ketika permintaan turun, harga jualnya otomatis ikut tertekan. Kondisi inilah yang membuat unit-unit manual di pasar mobil bekas relatif lebih mudah ditemui dengan harga lebih bersahabat. Tuas transmisi matik Daihatsu Ayla R ADS CVT Selain itu, gaya hidup masyarakat yang mengutamakan kepraktisan dan efisiensi waktu semakin memperkuat posisi transmisi matik sebagai pilihan utama. Pengendalian yang lebih mudah saat menghadapi kemacetan panjang menjadi nilai tambah yang sulit disaingi mobil manual. Sementara itu, mobil manual masih memiliki pasar tersendiri, terutama bagi yang tinggal di daerah berbukit atau membutuhkan kontrol lebih presisi saat melintasi jalan menanjak. Namun jumlahnya tidak sebanyak konsumen di perkotaan yang mobilitasnya lebih padat. “Pertimbangan pembeli biasanya untuk di pakai di daerah mana. Kalau perkotaan macet lebih memilih matik,” kata Andi. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.