Tren mobil listrik di Indonesia memang terus berkembang. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh pasar mobil bekas, khususnya di kalangan pedagang mobil seken. Sejumlah pedagang mobil bekas mengaku masih ragu mengambil stok mobil listrik karena khawatir dengan depresiasi harga yang dinilai terlalu cepat. Selain itu, perubahan harga mobil baru dan munculnya model baru dengan fitur lebih lengkap juga dianggap membuat pasar mobil listrik bekas sulit bergerak. Singgih dari Willies Mobil di Depok, Jawa Barat, mengatakan dirinya hingga saat ini belum pernah mengambil maupun menjual mobil listrik. Ilustrasi mobil listrik bekas, Hyundai Ioniq 5 “Mobil listrik saya belum pernah ambil, belum pernah jual,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026). Menurutnya, pasar mobil listrik bekas masih belum cukup meyakinkan bagi pedagang mobil. “Masih kurang yakin, terutama untuk penjualan mobil bekasnya,” kata dia. Ia menilai, salah satu alasan pedagang mobil bekas kelas menengah masih ragu menjual mobil listrik karena penurunan harganya yang cukup tajam dari kondisi baru ke bekas. “Yang pertama, penurunan harga dari baru ke bekas itu sangat jauh,” ujarnya. Dari total 1.077 sesi di GIIAS 2025, BinguoEV menjadi model yang paling banyak dicoba (63 persen), diikuti Cloud EV (17 persen), Air ev (15 persen), Alvez (3 persen), dan Almaz (2 persen). Selain itu, dia juga melihat sebagian konsumen mobil listrik saat ini masih didominasi kalangan menengah ke atas dan faktor tren. “Kalau menurut saya, pemakai mobil listrik sekarang itu benar-benar menengah ke atas atau sekadar ikut tren saja. Misalnya karena ingin terlihat peduli lingkungan,” kata dia. Dia pun menyoroti depresiasi harga mobil listrik dibandingkan mobil berbahan bakar bensin. “Dibilang mobil listrik lebih irit daripada bensin, mungkin dari sisi konsumsi energi memang iya. Tapi, apakah ada mobil bensin yang dipakai tiga tahun lalu harganya turun sampai 50 persen? Enggak bakal ada,” ujarnya. Senada dengan Singgih, Zidan dari Salman Auto Mobilindo menilai kondisi pasar mobil listrik saat ini masih sulit ditebak karena harga mobil baru terus berubah. BYD Atto 1 terbaru di Beijing Auto Show 2026 “Posisinya, yang menghancurkan harga pasar mobil listrik itu justru mobil listriknya sendiri. Misalnya kemarin Wuling Air ev dijual dengan harga sekian, lalu harga barunya dipotong lagi,” kata dia. Ia menambahkan, kehadiran model baru dengan harga lebih murah dan fitur lebih lengkap juga membuat harga mobil listrik bekas semakin tertekan. “Belum lagi sekarang ada Wuling BinguoEV yang harganya lebih murah, tapi fiturnya lebih mewah,” ujarnya. Sementara itu, Rama dari Rama Dagang Mobil di Bintaro mengaku masih enggan mengambil stok mobil China, terutama model listrik. Menurut dia, harga mobil listrik baru yang terus turun membuat pedagang kesulitan menentukan harga beli dan harga jual mobil bekas. Diler mobil bekas Willies Mobil di Kelapa Dua, Depok “Saya belum mau ambil mobil China. Soalnya mobil China saat ini yang bagus kan mobil listrik, kalau mobil bensinnya kurang," ujar Rama kepada Kompas.com. "Tapi mobil listrik bekas juga mau kita bayarin berapa? Kita ambil berapa, jual berapa. Sedangkan mobil listrik yang baru juga makin murah, semenjak ada BYD Atto 1 kan. Sulit bersaing dengan harga barunya," katanya. Menurut Rama, tren pasar mobil listrik bekas saat ini juga belum terbentuk kuat karena sebagian besar konsumen masih memilih membeli unit baru. "Terus, trennya mobil bekas listrik emang belum ke sana sepertinya. Karena (untuk mobil listrik) orang beli baru. Terus kan ada beberapa garansi yang gugur kalau mobil bekas listrik," kata Rama. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang