— Upaya mencari sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan bahan bakar alternatif di dalam negeri. Berbagai inovasi pun bermunculan, termasuk Bobibos, bahan bakar nabati hasil riset anak bangsa yang belakangan menarik perhatian publik karena berbasis limbah pertanian dan dinilai lebih berkelanjutan. Popularitas Bobibos meningkat dalam beberapa waktu terakhir setelah muncul klaim efisiensi proses produksi serta pemanfaatan bahan baku non-pangan. Di balik pengembangannya, tim Bobibos telah mengevaluasi berbagai jenis limbah pertanian sebelum akhirnya menetapkan jerami sebagai bahan baku yang dianggap paling tepat untuk produksi biofuel skala industri. Menurut M. Ikhlas Thamrin, penggagas Bobibos, keputusan ini bukan muncul tiba-tiba. Setelah mencoba beberapa bahan alternatif lain yang dinilai kurang stabil, sulit diproses, atau tidak tersedia secara konsisten, jerami menjadi pilihan yang paling memenuhi kebutuhan teknis dan logistik. “Jerami itu limbah pertanian yang selama ini hanya dibakar atau dibuang, padahal kandungan selulosanya sangat ideal untuk diolah menjadi biofuel,” ujar Ikhlas kepada Kompas.com, Selasa (18/11/2025). Ikhlas menjelaskan bahwa jerami dapat diproses menggunakan teknik fermentasi modern sehingga menghasilkan bahan bakar dengan kualitas tinggi tanpa membutuhkan lahan tanam tambahan. Selain itu, pemanfaatan jerami tidak menimbulkan konflik dengan sektor pangan, berbeda dengan singkong, tebu, atau tanaman energi lain yang membutuhkan lahan khusus. “Dari sisi logistik dan rantai pasok, jerami jauh lebih stabil karena tersedia setiap musim panen dan tersebar di banyak wilayah pertanian,” kata Ikhlas. Hal ini dinilai dapat menekan biaya bahan baku sekaligus membuat produksi biofuel lebih efisien. Ikhlas menambahkan bahwa inovasi ini juga dapat menjadi solusi atas permasalahan lingkungan akibat pembakaran jerami pascapanen. Dengan mengalihkan jerami ke industri energi, polusi udara dapat ditekan sementara petani memperoleh nilai tambah dari limbah yang sebelumnya tidak bernilai. Lebih jauh, tim riset Bobibos melihat jerami sebagai fondasi yang memungkinkan produksi bahan bakar nabati nasional menjadi lebih kompetitif dan berkelanjutan. “Kami ingin membangun ekosistem energi baru yang melibatkan petani, industri, hingga konsumen,” ujar Ikhlas. Ia optimistis bahwa biofuel berbasis jerami dapat menjadi salah satu pilar penting dalam transisi energi Indonesia beberapa tahun mendatang. Penjelasan BRIN Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bahwa secara teori, pemanfaatan jerami sebagai bahan baku energi memang memungkinkan. Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menyampaikan bahwa riset terkait konversi jerami menjadi bahan bakar pernah dilakukan lembaganya pada 2015–2016. “Secara teori biomassa seperti jerami memang bisa dikonversi menjadi bahan bakar,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (19/11/2025). Meski demikian, ia menjelaskan bahwa riset tersebut masih berada pada skala laboratorium dan menemukan sejumlah tantangan. Salah satunya adalah rendahnya rendemen serta belum ditemukannya teknologi produksi yang cukup efisien. Ilustrasi jerami padi. Menurut Cuk, tantangan utama dalam mengonversi limbah biomassa menjadi bahan bakar terletak pada proses pra-perlakuan yang efektif dan murah, teknologi produksi yang efisien, serta rantai pasok dan logistik material. Ia juga menegaskan bahwa setiap produk bahan bakar yang dihasilkan harus memenuhi standar nasional maupun internasional yang disepakati, termasuk melalui pengujian langsung pada mesin untuk memastikan tingkat keberterimaannya oleh produsen kendaraan. “Kami siap melakukan pendampingan verifikasi, validasi, dan asistensi teknoekonomis agar inovasi bisa dimanfaatkan luas,” kata Cuk. Adapun tahapan izin edar dan komersialisasi berada di bawah kewenangan kementerian terkait, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Proses ini penting untuk menjamin mutu, keamanan, dan kesesuaian produk sebagai bahan bakar pengganti BBM yang beredar di pasaran. Dengan demikian, inovasi seperti Bobibos dinilai memiliki potensi besar, namun tetap harus melalui proses evaluasi dan pengujian sesuai regulasi sebelum dapat diterapkan secara komersial dan digunakan oleh masyarakat luas. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.