Di era gempuran kendaraan listrik, taksi bahan bakar gas atau CNG masih jadi layanan andalan dari taksi Bluebird. Adrianto Djokosoetono, Direktur Utama PT Blue Bird Tbk mengatakan, Bluebird saat ini masih mengoperasikan taksi berbahan bakar gas sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi perusahaan. "Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan fleksibilitas operasional sekaligus mendukung transisi menuju mobilitas yang lebih rendah emisi," katanya saat dibungi oleh Kompas.com, MInggu (3/5/2026). Adrianto menjelaskan, taksi CNG telah menjadi bagian dari fondasi operasional Bluebird dalam menjaga efisiensi dan pengendalian emisi sejak 2018, sehingga tetap relevan dalam mendukung keberlanjutan layanan. Saat ini, Bluebird mengoperasikan armada CNG di empat kota utama, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Batam. Secara keseluruhan, jumlah armada CNG yang beroperasi di wilayah tersebut mencapai sekitar 3.000 unit, yang dikelola sesuai kebutuhan operasional dan ketersediaan infrastruktur di masing-masing kota. Bahkan, jumlah taksi CNG masih lebih besar dari taksi listrik Bluebird. Tombol indikator taksi gas milik Blue Bird Adrian juga mengatakan, taksi CNG tetap menjadi bagian dari operasional Bluebird karena diklaim dapat memberikan efisiensi serta kontribusi dalam pengurangan emisi hingga 45 persen. Khususnya di wilayah dengan infrastruktur yang mendukung. "Di saat yang sama, Bluebird juga secara bertahap meningkatkan porsi kendaraan listrik, seiring dengan kesiapan ekosistem dan kebutuhan pasar," kata Adrianto. Adapun posisi gas ada di area belakang kursi penumpang, atau di bagasi taksi. Meski sedikit mengambil ruang bagasi, namun barang penumpang masih bisa masuk. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang