— Di tengah meningkatnya perhatian terhadap energi alternatif dalam negeri, Bobibos muncul sebagai salah satu inovasi yang menawarkan potensi industrialisasi yang terukur. Bahan bakar nabati berbasis jerami ini bukan hanya konsep laboratorium, melainkan sudah memiliki hitungan kebutuhan lahan, alur produksi, hingga estimasi kapasitas pabrik jika kelak diproduksi secara massal. Founder Bobibos, Ikhlas Thamrin, menjelaskan bahwa proses produksi Bobibos sangat bergantung pada ketersediaan jerami dan siklus panen. “Masa panen jerami itu tiga bulan, jadi tiga bulan itu satu siklus produksi,” ujarnya saat ditemui di Bogor, Selasa (11/11/2025). Dari satu hektare sawah, rata-rata petani bisa menghasilkan sekitar 9 ton jerami setiap kali panen. Jumlah itu dapat diolah menjadi kurang lebih 3.000 liter Bobibos per hektare. Ikhlas mengatakan, angka tersebut menjadi dasar perhitungan kapasitas produksi jika ingin menaikkan skala secara nasional. Bobibos menargetkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dapat diakses seluruh masyarakat melalui BosMini, SPBU, dan kerja sama industri. “Kalau kita mau produksi 1,5 juta liter dalam sebulan, minimal perlu sekitar 2.000 hektare lahan jerami yang terhubung dengan satu pabrik pengolahan,” kata Ikhlas. Menurutnya, kebutuhan ini bukan hanya soal lahan, tetapi juga integrasi rantai pasok mulai dari petani, proses pengumpulan jerami, hingga sistem distribusi dari pabrik ke konsumen. Ia juga menjelaskan bahwa selain jerami, Bobibos membutuhkan satu komponen tambahan untuk mencapai karakteristik oktan tinggi yang diharapkan. “Kita pakai tambahan formula yang namanya ‘seum’, itu yang bikin performanya stabil,” ujarnya. Dengan skema tersebut, Ikhlas menilai bahwa Bobibos punya peluang besar untuk menjadi industri baru di sektor energi nabati, terutama jika dikelola dalam kawasan produksi yang terintegrasi. Namun, ia menegaskan bahwa industrialisasi bahan bakar nabati ini tetap membutuhkan dukungan investasi dan kebijakan yang jelas agar bisa berjalan konsisten. “Kalau mau dijadikan industri nasional, modelnya sudah ada. Tinggal kemauan untuk membangun kawasan produksi energi berbasis pertanian,” kata Ikhlas. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.