Minat konversi motor listrik di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, angkanya jauh dari harapan. Apa penyebab utamanya?Meski ada subsidi selama hampir dua tahun, namun realisasi konversinya jauh dari kata memuaskan. Padahal, sebelum akhir 2024, program tersebut mendapat stimulus Rp 10 juta/unit dari pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, selama lima tahun terakhir, hanya ada 2.278 unit motor bensin yang dikonversi menjadi motor listrik di Indonesia.Konversi motor listrik di Indonesia. Foto: Antara Foto/Sulthony HasanuddinDari angka tersebut, tahun 2024 menjadi yang tertinggi dengan kontribusi 1.352 unit. Sebab, periode itu menjadi momen terakhir konversi mendapat subsidi Rp 10 juta/unit dari pemerintah. Angkanya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.Menurut Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, ada sejumlah tantangan yang membuat konversi motor listrik belum masif di Indonesia. Misalnya seperti minimnya kesadaran, kondisi keuangan yang tak memadai, ketakutan soal administrasi, hingga keraguan terhadap mesin listrik."Kemarin kami diskusi dengan teman-teman Grab, Gojek, inDrive dan semua ojol, salah satu isunya adalah spesifikasi motor listrik itu sendiri. Misalnya, Pak, motornya takut nggak bisa nanjak. Saya bayangkan, motor yang mendapat bantuan kita buat standar," ujar Trois saat ditemui di Senayan, Jakarta Pusat.[Gambas:Youtube]Di luar itu, kata Trois, baterai motor listrik belum punya standard mutlak seperti mobil listrik. Sebab, jenis colokan charger-nya berbeda-beda. Bahkan, ada yang dicolok dan di-swap atau tukar baru. Menurutnya, sebagian orang tak terbiasa dengan kondisi tersebut."Charger mobil listrik sudah no issue, tapi kalau motor listrik masih menjadi issue. Kemudian berkaitan dengan nilai aset EV-nya. Karena once sudah dikonversi, harga motor EV relatif tidak stabil seperti ICE," kata dia.