Menggeber gas motor saat posisi kendaraan berada pada standar tengah atau standar dua masih sering dilakukan pemilik sepeda motor. Cara ini biasanya dilakukan untuk memeriksa putaran mesin, mendengar suara knalpot, atau sekadar mencoba respons mesin. Namun, kebiasaan tersebut ternyata tidak boleh dilakukan sembarangan. Putaran mesin yang terlalu tinggi tanpa beban dapat menimbulkan risiko kerusakan pada komponen mesin. Ilustrasi menarik gas motor matik saat berhenti. Endro Sutarno, People & Technical Development SiTEPAT, mengatakan, berbahaya menggeber-geber gas pada saat posisi motor dalam standar tengah atau standar dua. "Digas-gas kencang tanpa ada beban, itu bahaya. Itu bisa pistonnya atau setang sehernya bisa patah. Geber-geber tanpa ada beban itu sebenarnya tidak dianjurkan," ujar Endro, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Putaran Mesin Tinggi Tanpa Beban Menurut Endro, memutar tuas gas saat motor berada dalam standar tengah sebenarnya masih diperbolehkan. Namun, pengendara perlu memperhatikan putaran mesin dan tidak menahan gas terlalu lama. Komparasi Honda Vario 160 Evo dan Yamaha Lexi LX 155 Endro menambahkan, boleh-boleh saja memutar tuas gas saat posisi motor dalam standar tengah. Tapi, tidak dalam putaran mesin yang tinggi dan posisi tuas gas ditahan. Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena mesin bekerja tanpa beban dari roda belakang. Ketika putaran mesin meningkat terlalu tinggi, komponen di dalam mesin tetap bergerak dengan cepat, sementara motor tidak digunakan untuk berkendara. Honda PCX 160 yang bermasalah di bagian pistonnya sedang diperbaiki Karena itu, kebiasaan menggeber gas dalam-dalam saat motor berada di standar tengah sebaiknya dihindari. Terlebih jika dilakukan berulang kali atau dalam waktu lama. Cara Aman Memutar Gas Endro menjelaskan, pengendara tetap bisa memeriksa respons mesin tanpa harus menggeber gas secara berlebihan.