Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia fluktuatif karena mengikuti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuat biaya operasional mobil bermesin bensin bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung kebijakan penyesuaian harga dari pemerintah dan operator. Sebagai gambaran, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax per April 2026 adalah Rp 12.300 per liter di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Penyesuaian ini dilakukan secara berkala mengikuti tren harga minyak global. Honda WR-V Dengan kondisi tersebut, menarik untuk membandingkan efisiensi dan biaya operasional mobil bensin seperti Honda WR-V dengan mobil listrik Jaecoo J5 EV. Mengingat keduanya punya harga yang berdekatan, tapi beda konfigurasinya. Data konsumsi BBM dan listrik yang saya tulis di sini berdasarkan hasil pengetesan Kompas Otomotif. Untuk dalam kota, WR-V mencatatkan konsumsi BBM 10,8 km per liter dalam kondisi lalu lintas padat. Rute pengujian mencakup Depok hingga Jakarta Selatan dengan kecepatan rata-rata 15 km per jam. Sementara di luar kota atau jalan tol, efisiensinya meningkat menjadi 21,1 km per liter dengan kecepatan rata-rata 64 km per jam. Angka ini digunakan sebagai acuan simulasi penggunaan harian. Di sisi lain, J5 EV mencatat konsumsi listrik rata-rata 11,4 kWh per 100 km. Artinya, satu kWh bisa menempuh sekitar 8,7 km, bahkan dalam kondisi optimal mendekati 10 km. Agar sebanding, simulasi dibuat dengan penggunaan harian Bogor–Jakarta pulang-pergi sejauh 100–120 km selama 30 hari. Total jarak tempuh berkisar 3.000 km hingga 3.600 km per bulan. Dengan harga Pertamax Rp 12.300 per liter, WR-V membutuhkan sekitar 142–170 liter per bulan. Artinya, biaya bahan bakar berada di kisaran Rp 1,75 juta hingga Rp 2,09 juta. Untuk mobil listrik, jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif listrik sekitar Rp 1.444 per kWh, J5 EV membutuhkan 342–410 kWh. Biayanya berkisar Rp 494.000 hingga Rp 593.000 per bulan. Namun, bila mengandalkan pengisian di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), tarifnya umumnya lebih mahal, berkisar Rp 2.400 hingga Rp 2.500 per kWh. Dengan tarif tersebut, biaya pengisian J5 EV naik menjadi sekitar Rp 820.000 hingga Rp 1,02 juta per bulan. Meski demikian, selisih biaya operasional masih cukup besar dibanding mobil bensin, yakni sekitar Rp 730.000 hingga Rp 1,27 juta per bulan. Ini menunjukkan mobil listrik tetap lebih hemat, baik dicas di rumah maupun di SPKLU. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang