Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi mulai mengubah kebiasaan para pengguna mobil diesel di Tanah Air. Tak sedikit yang kini lebih selektif menggunakan kendaraannya, bahkan beralih ke opsi lain yang dianggap lebih hemat. Hal ini dirasakan langsung oleh Ali Fahmi, pemilik Toyota Fortuner TRD 2019 sekaligus anggota komunitas ID42ner 1451. Ia mengaku, sejak harga solar nonsubsidi melonjak, penggunaan mobil diesel miliknya untuk aktivitas harian mulai dikurangi. “Semenjak solar nonsubsidi naik, saya tidak pakai Fortuner lagi untuk harian. Sekarang hanya untuk luar kota saja,” ujar Ali kepada KOMPAS.com, Rabu (6/5/2026). Puluhan kendaraan antre Solar di SPBU Jalan Trunojoyo Pamekasan, Jumat (31/10/2025) Menurut dia, lonjakan biaya operasional menjadi alasan utama perubahan tersebut. Bila sebelumnya pengeluaran untuk bahan bakar masih tergolong wajar, kini angkanya meningkat cukup signifikan. “Biasanya saya isi Dexlite di kisaran Rp 4 juta sampai Rp 5 juta sebulan, sekarang bisa tiga kali lipat. Jadi sekitar Rp 12 juta sampai Rp 15 juta,” kata dia. Kondisi ini juga dirasakan oleh anggota komunitas lainnya. Ali menyebut, sebagian pengguna mobil diesel mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif, terutama untuk penggunaan harian di dalam kota. “Teman-teman di grup komunitas sudah banyak yang beli EV juga, lebih irit,” ucapnya. Meski demikian, Ali berharap harga solar nonsubsidi tidak terus mengalami kenaikan tajam. Ia menilai, selama harga masih berada di bawah angka tertentu, penggunaan mobil diesel masih cukup masuk akal. “Saya berharap kenaikan tidak seperti ini. Harga di bawah Rp 20.000 masih oke lah,” kata dia. modifikasi BYD M6 Sementara itu, Andre, pengguna Toyota Fortuner VRZ diesel tahun 2021 di Jakarta. Ia mengaku sudah mengantisipasi potensi kenaikan BBM dengan memiliki kendaraan listrik sebagai mobilitas utama. "Mulai agak berat ya, untungnya saya sudah prepare EV. Biasanya Fortuner di pakai sesuai tanggal plat mobil (genap), akan jarang digunakan sekarang. Lebih ke full EV sehari-hari," kata Andre. "BYD M6 ini memang sengaja dibeli karena antisipasi hal seperti ini juga, selain sebagai genset berjalan apabila ada apa-apa, karena semua sudah dengan teknologi dan butuh listrik jadi ketika ada kondisi darurat," lanjutnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya operasional, tetapi juga memengaruhi pola penggunaan kendaraan hingga preferensi konsumen dalam memilih jenis mobil. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang