Video kecelakaan dalam ajang drag race di Kelurahan Upai, Kotamobagu, Sulawesi Utara, viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat sebuah mobil yang sedang mengikuti lomba tiba-tiba kehilangan kendali dan bergerak ke arah sisi kiri lintasan. Mobil tersebut kemudian menabrak area penonton yang berada di pinggir jalan. Akibat kejadian itu, tujuh penonton meninggal dunia dan sembilan orang lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (9/8/2026). Insiden ini kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan dalam penyelenggaraan balap mobil, khususnya ajang yang melibatkan kecepatan tinggi. Panitia Siap Bertanggung Jawab Ketua panitia drag race, Lucky Sugeha, menyampaikan pihaknya siap bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa para korban. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Kotamobagu Iptu Ahmad Waafi mengatakan pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan. "Pastinya kami akan memeriksa semua yang terlibat maupun panitia," kata Ahmad, dikutip dari Kompas.com, Senin (10/8/2026). Polisi masih menggali rangkaian kejadian, termasuk kondisi lintasan, kendaraan yang digunakan, hingga prosedur keselamatan dalam pelaksanaan lomba. Garis start pada Kejurnas Drag Race di Sirkuit Sentul (28/11/2021). Balapan Kecepatan Wajib Gunakan Standar Keselamatan Tinggi Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, kegiatan yang berkaitan dengan kendaraan berkecepatan tinggi harus memiliki standar keselamatan paling tinggi. Menurutnya, ajang balap tidak cukup hanya menggunakan jalan lurus sebagai lintasan. Faktor keselamatan pebalap, penonton, panitia, hingga lingkungan sekitar harus menjadi prioritas utama. "Event yang berkaitan dengan kecepatan dan kendaraan beroda itu wajib berstandar keselamatan grade 1, itu yang tertinggi safetynya. Artinya trek khusus balap. Tidak boleh sembarangan asal ada trek lurus saja," ujar Sony. Ia menambahkan, keberhasilan sebuah ajang balap bukan hanya dilihat dari kelancaran perlombaan, tetapi juga dari penerapan keselamatan selama kegiatan berlangsung. "Jalannya lomba mendapat predikat baik jika tingkat keselamatannya bagus dan kecelakaannya 0," katanya. Posisi Penonton di Garis Finis Dinilai Berbahaya Sony juga menyoroti kebiasaan penonton yang memilih berada dekat garis finis untuk melihat kendaraan yang melaju paling cepat. Padahal, menurutnya, area tersebut menjadi salah satu titik paling berisiko jika kendaraan mengalami masalah atau kehilangan kendali. "Penonton sering kali mengambil posisi menonton di garis finish untuk melihat siapa yang tercepat. Padahal posisi tersebut yang paling bahaya, sehingga harus clear dari penonton," ujar Sony. Ia menyarankan agar penyelenggara menyediakan area khusus penonton berupa tribun yang memiliki perlindungan berlapis. "Sebaiknya penonton diberikan tribun khusus yang terlindungi dengan double barrier. Jika terjadi kecelakaan maka di trek itu tidak sampai mencederai penontonnya," ucapnya. Menurut Sony, keberadaan pembatas dan area aman bagi penonton menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan balap. Dengan begitu, risiko kecelakaan yang melibatkan pihak di luar peserta dapat diminimalisir.