Mobil listrik. GULIR UNTUK LANJUT BACA Secara konsep, REEV berada di antara plug-in hybrid (PHEV) dan battery electric vehicle (BEV). Mobil ini tetap digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik, namun dilengkapi mesin pembakaran kecil yang berfungsi sebagai generator untuk mengisi ulang baterai saat daya mulai menipis.Artinya, kendaraan tetap melaju dengan tenaga listrik, tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada stasiun pengisian daya eksternal.Salah satu pemain yang sudah lebih dulu mengaplikasikan teknologi ini di Eropa adalah Leapmotor. Sementara itu, pabrikan Barat masih dalam tahap mempertimbangkan strategi tersebut sebagai jembatan menuju elektrifikasi penuh.Langkah ini tak lepas dari realita di pasar. Banyak konsumen masih ragu beralih ke mobil listrik murni, terutama karena keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan kekhawatiran jarak tempuh.Renault, misalnya, tengah mengembangkan platform baru yang mampu menawarkan jarak tempuh hingga 750 km untuk versi listrik murni, dan bahkan bisa mencapai 1.400 km dengan tambahan range extender.Pendekatan ini dinilai mampu menarik konsumen yang belum siap sepenuhnya meninggalkan mesin konvensional. Bahkan, Renault menargetkan hingga 70 persen konsumennya dapat beralih ke elektrifikasi pada 2030 dengan opsi teknologi tersebut.Di sisi lain, Stellantis juga melihat peluang besar. Grup ini berencana meluncurkan model REEV pada kendaraan besar seperti pikap dan SUV di pasar Amerika Utara, yang selama ini masih sangat bergantung pada mesin berbahan bakar fosil.Secara teknis, REEV menawarkan beberapa keunggulan. Salah satunya adalah penggunaan baterai yang lebih kecil dibandingkan mobil listrik murni, sehingga biaya produksi bisa ditekan. Selain itu, teknologi ini tetap memanfaatkan mesin pembakaran internal—yang selama ini menjadi kekuatan utama pabrikan Barat.Dari sisi industri, pendekatan ini juga memberi waktu transisi yang lebih realistis. Rantai pasok mesin konvensional tidak langsung ditinggalkan, sekaligus mengurangi tekanan investasi besar dalam pengembangan baterai.Namun, bukan berarti tanpa kritik. Sejumlah pihak menilai teknologi ini justru berpotensi menghambat transisi menuju nol emisi. Kelompok lingkungan bahkan menyebut REEV sebagai “jalan memutar” yang mahal.Dalam kondisi baterai habis, konsumsi bahan bakarnya disebut bisa menyamai SUV berbahan bakar bensin, sehingga manfaat lingkungannya dipertanyakan jika dibandingkan dengan mobil listrik murni.Meski begitu, faktor geopolitik dan kebijakan juga ikut mendorong tren ini. Regulasi emisi yang belum seragam, serta pelonggaran target kendaraan nol emisi di beberapa wilayah seperti Eropa dan Amerika Serikat, membuat pabrikan membutuhkan fleksibilitas dalam strategi produknya.Di pasar China sendiri, REEV sudah mulai mendapat tempat dengan pangsa sekitar 9 persen dari total kendaraan elektrifikasi. Sementara di luar China, angkanya masih di bawah 1 persen, menandakan teknologi ini masih dalam tahap awal adopsi global. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa lama teknologi ini akan bertahan. Seiring perkembangan baterai yang semakin efisien dan murah, bukan tidak mungkin REEV hanya menjadi solusi sementara.Namun untuk saat ini, mobil listrik dengan penambah jarak tempuh tampaknya menjadi kartu baru pabrikan global dalam menjawab keraguan konsumen—sekaligus menjaga keseimbangan antara ambisi elektrifikasi dan realitas pasar.