Faktor range anxiety atau kekhawatiran akan jarak tempuh dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya masih menjadi ganjalan utama bagi masyarakat untuk beralih ke sepeda motor listrik. Menyikapi hal tersebut, PT Ilectra Motor Group (IMG) selaku produsen motor listrik Alva, terus mempercepat pembangunan ekosistem pengisian daya secara agresif. Langkah ini dilakukan agar lini produk mereka dapat benar-benar diandalkan sebagai moda transportasi utama harian. Purbaya Yudha, Chief Executive Officer (CEO) Alva, menyatakan bahwa proses edukasi pasar di Indonesia membutuhkan waktu yang panjang. ALVA Resmikan ALVA Studio Indy Bintaro, Punya 21 Colokan Cas Namun, seiring meningkatnya animo masyarakat, penyediaan jaringan pengisian daya menjadi kunci agar konsumen merasa tenang saat berkendara jauh. "Hal yang berhubungan dengan range anxiety atau charge anxiety ini bisa di-address dengan adanya charging station yang kita bangun. Dan inilah yang intinya kita ingin, Alva bisa sebagai transportasi utama daripada pengguna kami," ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Senin (18/5/2026). Target Naik Dua Kali Lipat Guna mewujudkan target tersebut, Alva secara bertahap terus menambah jumlah titik pengisian daya. Berdasarkan catatan perusahaan, pertumbuhan infrastruktur cas Alva mengalami peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun lalu. "Tahun lalu itu sudah sekitar 180 connector. Sekarang ini sudah mencapai sekitar 250-an connector, dan jumlah lokasi itu sudah triple digit. Kita berharap (tahun ini) paling sedikit double, dekat-dekat ke 400 connector," kata Purbaya. Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa jika diakumulasikan secara keseluruhan lewat aplikasi MyAlva, para pengguna kini sudah bisa memantau sekitar 930-an lokasi pengisian daya yang tersedia dan siap digunakan. Aplikasi tersebut juga mendeteksi status ketersediaan slot pengisian cas secara real-time. Sebagai stimulus tambahan untuk memicu ketertarikan konsumen, fasilitas pengisian daya di ekosistem stasiun pengisian resmi milik Alva pun saat ini masih disediakan tanpa dipungut biaya alias gratis. Saat ini, wilayah Jawa dan Bali masih menjadi pasar utama dari penyerapan ekosistem Alva. Kendati demikian, Alva melihat adanya potensi pergerakan pasar yang sangat besar di kota-kota besar luar Jawa dan Bali, seperti Medan, Makassar, hingga beberapa wilayah di Kalimantan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang