Penampilan gemilang pebalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, di kancah internasional mendapat sorotan positif dari para bintang MotoGP. Kali ini, pujian datang langsung dari dua pebalap utama tim Honda HRC Castrol, Joan Mir dan Luca Marini, di acara meet and greet yang digelar Astra Honda Motor (AHM) di Bali, Selasa (3/3/2026). Joan Mir bersama awak media nasional di acara Astra Honda Motor di Bali Joan Mir mengaku terkesan dengan progres yang ditunjukkan pebalap asal Gunungkidul, Yogyakarta, tersebut. Terutama setelah Veda berhasil mengamankan posisi kelima dalam balapan di Thailand. Menurut juara dunia MotoGP 2020 ini, Veda memiliki keunggulan karena menimba ilmu di lingkungan balap yang tepat. "Saya sangat senang dengan apa yang dilakukan Veda di sana. Dia datang dari sekolah yang sangat bagus, mulai dari Asia Talent Cup hingga Red Bull Rookies Cup. Dia sudah mengenal karakter motor Moto3 dengan sangat baik karena telah berada di sana selama beberapa tahun," kata Mir. Sependapat dengan Mir, Luca Marini juga memberikan perhatian khusus terhadap talenta Veda. Luca Marini saat diwawancara wartawan media nasional di Bali Menurut Luca, hasil finis di posisi lima besar dalam balapan perdana kategori Moto3 merupakan pencapaian yang patut diacungi jempol bagi seorang pendatang baru. Marini menegaskan bahwa Veda telah menunjukkan potensinya sejak musim lalu dan memulai debutnya dengan cara terbaik sebagai pebalap yang sangat berbakat. "Dia sudah menunjukkan potensinya musim lalu. Dia memulai balapan pertamanya di kategori Moto3 dengan cara terbaik. Finis di lima besar adalah hasil yang sangat bagus untuk dikenang, dan dia menunjukkan bahwa dia adalah pebalap yang sangat berbakat," kata Marini. Meski mengakui talenta Veda, kedua pebalap kelas dunia ini kompak memberikan wejangan penting. Mir mengingatkan agar Veda tidak cepat puas dan tetap waspada terhadap ketatnya persaingan di kejuaraan dunia. Ia menekankan bahwa konsistensi adalah kunci agar bisa menjadi salah satu favorit di musim depan. "Sangat penting bagi dia untuk tidak berpikir bahwa setiap balapan akan berjalan mudah. Dia harus terus bekerja keras. Talenta itu ada, tapi konsistensi adalah kunci. Jika dia tidak terlalu terbebani oleh hasil jangka pendek dan fokus mencari pengalaman, dia bisa menjadi salah satu favorit di akhir tahun atau musim depan," ucap Mir. Di sisi lain, Luca Marini mengingatkan bahwa perjalanan menuju kelas utama (MotoGP) masih sangat panjang dan penuh tantangan. Marini, yang juga merangkak dari kelas bawah, menekankan bahwa kategori Moto2 dan MotoGP akan menghadirkan tantangan fisik serta teknis yang jauh lebih berat. "Dia perlu banyak bekerja pada dirinya sendiri dan terus berusaha meningkatkan kemampuannya. Moto2 dan MotoGP akan menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar daripada Moto3. Jadi, dia harus mengambil semua hal positif dari Moto3 sebagai modal saat naik ke Moto2 nanti. Jika dia ingin pindah ke MotoGP, tantangannya akan jauh lebih besar lagi dan tentunya sulit sulit," kata Marini. Mengawali musim balap 2026, Veda Ega Pratama memang tengah menjadi sorotan sebagai satu-satunya wakil Indonesia di kelas Moto3. Pebalap asuhan Astra Honda Racing Team (AHRT) ini mencatatkan sejarah dengan menjadi pebalap Indonesia pertama yang mampu menembus posisi lima besar dalam balapan pembuka di Buriram. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang