Saat membeli mobil bekas, banyak orang mencoba menilai kondisi kendaraan dari tampilan luar. Salah satu yang sering diperhatikan adalah celah antar panel bodi. Celah yang tidak simetris kerap dicurigai sebagai tanda mobil pernah mengalami tabrakan. Lalu, benarkah perbedaan celah panel bisa menjadi indikator riwayat kecelakaan? Pemilik jasa inspeksi kendaraan PT Inspector Indonesia Expert, Lukman Hakim, mengatakan bahwa perbedaan celah panel memang bisa menjadi petunjuk awal. Namun, tidak selalu berarti mobil pernah mengalami tabrakan berat. Bagian panel bodi yang bisa di-PDR “Bisa, tapi berdasarkan pengalaman kami, perbedaan celah panel biasanya disebabkan benturan ringan saja," ujar Hakim kepada Kompas.com, belum lama ini. Hakim menjelaskan, kasus yang paling sering ditemui adalah celah panel antara sisi kanan dan kiri yang tidak sama. "Yang sering ditemukan, celah panel fender kanan dengan bumper depan kanan tidak sama dengan sisi kiri. Biasanya itu terjadi karena sebelumnya pernah ada proses perbaikan di area tersebut akibat benturan, dan saat pemasangan kembali hasilnya kurang rapi," kata dia. Jenis Tabrakan Menurut Hakim, penting bagi calon pembeli memahami bahwa tidak semua bekas tabrakan memiliki tingkat kerusakan yang sama. Ilustrasi perbaikan bodi mobil "Kesimpulannya, berdasarkan pengalaman saya dan tim, jenis tabrakan bisa dibedakan menjadi tiga," ujarnya. "Pertama, tabrakan ringan. Ciri-cirinya hanya repaint dan dempul dalam batas wajar, biasanya sebatas panel luar dan masih di area sealer panel." Pada kondisi ini, kerusakan umumnya hanya menyentuh bagian luar bodi. Struktur utama mobil biasanya masih aman. "Kedua, tabrakan sedang. Ditandai dengan repaint dan dempulan yang tebal, sudah mengenai sealer, bahkan merembet ke panel bagian dalam," kata Hakim. Artinya, dampak benturan sudah lebih dalam dan perlu dicek lebih detail untuk memastikan tidak ada masalah struktural. Ilustrasi bodi mobil penyok yang masih bisa diperbaiki dengan meyode PDR "Ketiga, tabrakan berat atau kecelakaan besar. Ciri-cirinya tulangan sudah bengkok, ada riwayat penggantian bullhead, serta pernah terjadi ledakan airbag," kata Hakim. Pada tahap ini, pemeriksaan tidak bisa hanya mengandalkan mata. Hakim mengingatkan, proses penilaian harus dilakukan secara hati-hati dan profesional. "Untuk menilai tabrakan berat diperlukan ketelitian mendalam dan alat scanner guna membaca data modul SRS (airbag), apakah pernah ada riwayat meledak atau tidak," katanya. Celah panel yang tidak rata sebaiknya dijadikan alarm untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, bukan langsung memvonis kendaraan tersebut rusak parah. "Karena jika melakukan penilaian secara sembarangan, bisa ada pihak yang dirugikan,” ujar Hakim. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang