Sirkuit Sepang International Circuit kembali menjadi salah satu lintasan paling menantang dalam kalender balap internasional, termasuk Asia Road Racing Championship (ARRC). Karakter trek yang teknikal, kombinasi tikungan panjang dan lurus cepat, serta kondisi cuaca panas dan lembap membuat sirkuit ini tidak hanya menguji kecepatan, tetapi juga ketahanan fisik dan strategi balap. Di Sepang, suhu udara saat race weekend umumnya berada di kisaran 30–35 derajat Celsius. Namun suhu aspal bisa melonjak hingga 50–60 derajat Celsius, kondisi yang berdampak langsung pada peningkatan suhu ban dan penurunan grip. Ditambah tingkat kelembapan yang bisa mencapai 70–90 persen, tubuh pebalap dituntut bekerja lebih keras karena proses pendinginan alami menjadi kurang efektif. Kombinasi tersebut menjadikan Sepang sebagai salah satu sirkuit yang dikenal sangat menuntut manajemen ban dan konsistensi ritme sepanjang race. Hal itu juga dirasakan pebalap Astra Honda Racing Team (AHRT) yang turun pada seri pembuka ARRC 2026 di Sepang. Persaingan ketat sejak awal balapan membuat strategi menjadi faktor penting, bukan sekadar kecepatan. “Hal yang pertama, harus puas di posisi lima, karena tahun ini balapnya cukup kompetitif. Jadi sampai tim satu terakhir pun masih saling passing, tidak bisa kabur,” ujar Herjun Atna Firdaus di Sepang, Sabtu (11/5/2026). Herjun Atna Firdaus di ARRC 2026 Sepang. Ia menilai, salah satu tantangan utama di Sepang adalah menjaga ritme agar ban tidak cepat turun performanya. “Di sini kalau terlalu agresif di awal, ban cepat drop. Jadi harus pintar jaga ritme dari lap pertama,” katanya. Menurut Herjun, karakter lintasan Sepang membuat persaingan tetap terbuka hingga lap terakhir, sehingga posisi bisa berubah dalam hitungan tikungan. “Tidak bisa yang kita terus kabur. Semua masih punya chance sampai corner terakhir,” ujarnya. Ia juga menegaskan tidak ada kendala teknis berarti dari motor, namun pemilihan momen dan posisi di lintasan menjadi faktor pembeda dalam balapan. “Kalau dari sisi motor dan riding tidak ada kendala signifikan. Cuma tadi mungkin salah posisi saja di momen tertentu,” kata Herjun. Di level MotoGP, Jack Miller pernah menilai Sepang sebagai salah satu sirkuit yang sangat menuntut manajemen ban, terutama dalam kondisi panas ekstrem yang mempercepat degradasi ban belakang. Hal tersebut membuat strategi dan pengelolaan ritme menjadi faktor krusial sepanjang balapan. Kombinasi faktor tersebut membuat Sepang bukan hanya arena adu cepat, tetapi juga uji strategi, ketahanan fisik, dan kecerdasan membaca situasi lintasan. Di tengah ketatnya persaingan ARRC musim ini, perbedaan kecil dalam menjaga ban, mengatur pace, dan memanfaatkan momentum bisa menjadi penentu hasil akhir di garis finis. Dengan karakter yang kompleks tersebut, Sepang kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu barometer penting untuk mengukur kesiapan pebalap, dari level Asia hingga dunia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang