Akhir-akhir ini hujan dengan intensitas tinggi kerap melanda berbagai wilayah dan memicu genangan hingga banjir di sejumlah titik, khususnya di Jakarta. Kondisi tersebut berdampak langsung pada lalu lintas, membuat kemacetan semakin parah dan waktu tempuh perjalanan kian tak menentu. Kemacetan lalu lintas yang kerap dianggap sekadar membuang waktu ternyata menyimpan dampak yang jauh lebih serius, terutama bagi kesehatan fisik dan psikis pengendara yang harus berjam-jam terjebak di jalan. Menurut praktisi psikologi Universitas Indonesia, Anna Surtinina, kondisi macet membuat tubuh berada pada posisi yang sama dalam waktu lama, baik duduk di kendaraan maupun berdiri di transportasi umum, sehingga menimbulkan tekanan berulang pada bagian tubuh tertentu. “Dengan lebih lama duduk atau berdiri pada posisi yang sama karena kemacetan, berarti ada tekanan di tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu beragam jenis penyakit,” kata Anna kepada Kompas.com, Jumat (23/1/2026). Banjir memicu kemacetan di Jalan DI Panjaitan, Kamis (22/1/2026). Ia menjelaskan, tekanan fisik tersebut dapat berdampak pada otot, sendi, hingga sistem peredaran darah. Jika terjadi terus-menerus, keluhan seperti nyeri punggung, pegal berkepanjangan, hingga gangguan kesehatan lain berpotensi muncul dan sering kali tidak disadari sebagai efek kemacetan. Tak hanya berdampak secara fisik, kemacetan juga memberi beban besar pada kondisi psikologis pengendara. Situasi jalan yang padat, tidak bergerak, dan berlangsung lama dapat memicu stres, khususnya distres atau stres negatif. “Secara psikologis, kemacetan bisa memunculkan kecemasan, terutama pada orang yang punya kebutuhan untuk cepat sampai rumah atau harus berangkat lebih pagi padahal banyak hal yang perlu diurus,” ujarnya. Dalam kondisi tertekan, pengendara juga berisiko mengalami perubahan perilaku saat berkendara. Stres dapat membuat seseorang menjadi lebih agresif di jalan, sulit mengendalikan emosi, hingga nekat mengebut atau menyalip di situasi yang tidak aman. Dampak jangka panjangnya pun tidak berhenti di jalan. Kelelahan fisik dan mental akibat kemacetan dapat menurunkan konsentrasi dan performa kerja, serta membuat emosi lebih mudah tersulut dalam kehidupan sehari-hari. “Sering kali orang yang mengalami kelelahan dan ketegangan karena kemacetan jadi lebih mudah tersinggung dan marah. Ini bisa berdampak ke relasi dengan orang-orang di sekitarnya,” kata Anna. Ia mengingatkan, kemacetan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai persoalan sepele. Selain menuntut solusi transportasi dan penataan lalu lintas yang lebih baik, kesadaran akan dampaknya terhadap kesehatan tubuh dan pikiran juga menjadi hal penting bagi masyarakat. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang