Produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai Motor Company, kembali menjadi sorotan setelah melakukan penarikan massal (recall) terhadap ribuan unit Hyundai Palisade. Langkah ini diambil akibat adanya temuan masalah keselamatan serius pada sistem kursi elektrik yang berpotensi membahayakan penumpang. Dikutip dari Carscoops, recall Hyundai Palisade 2026 ini dipicu oleh insiden fatal di Amerika Serikat, yang melibatkan fitur kursi lipat otomatis. Dalam kasus tersebut, seorang anak dilaporkan meninggal dunia setelah terjepit kursi saat fitur tersebut aktif. Sebagai respons cepat, Hyundai menghentikan sementara penjualan varian tertentu serta menarik lebih dari 68.500 unit kendaraan di Amerika Utara. “Penarikan ini dilakukan karena masalah kursi elektrik baris kedua yang berpotensi membahayakan penumpang,” demikian dijelaskan dalam laporan terkait. Baca juga: Hyundai Perluas Layanan Sewa Mobil di Indonesia, Biaya Mulai Rp 6 Juta Masalah utama terletak pada sistem kursi otomatis yang tidak mampu mendeteksi keberadaan objek atau penumpang dengan baik. Akibatnya, fitur pelipatan kursi tetap berjalan meski terdapat hambatan, sehingga meningkatkan risiko cedera. Tak hanya di Amerika, potensi recall juga meluas ke pasar global. Bahkan, di Korea Selatan dilaporkan adanya kasus cedera yang diduga berkaitan dengan sistem kursi otomatis tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, Hyundai menyiapkan pembaruan perangkat lunak (over-the-air/OTA) guna meningkatkan sensitivitas sistem dalam mendeteksi hambatan. Selain itu, produsen juga mengimbau pengguna agar tidak mengoperasikan kursi elektrik saat terdapat penumpang di baris belakang. “Pengguna diminta menghindari penggunaan fitur kursi otomatis jika ada orang atau benda di baris kedua atau ketiga,” tulis laporan tersebut. Baca juga: Hyundai All‑New Palisade Hybrid Resmi Masuk Indonesia, Harga Mulai Rp 1,1 Miliar Meski demikian, seluruh proses perbaikan dalam program recall ini dilakukan tanpa biaya bagi konsumen. Hyundai juga masih melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan solusi jangka panjang. Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa fitur canggih pada kendaraan tetap harus diimbangi dengan standar keselamatan tinggi. Bagi konsumen di Indonesia, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi terkait unit yang terdampak, namun disarankan untuk terus memantau informasi dari pabrikan.