Daihatsu tetap menjadi salah satu pilihan Low MPV (LMPV) yang diminati di pasar mobil bekas maupun baru. Bagi konsumen yang mengincar efisiensi pengeluaran harian, varian mesin 1.300 cc dengan transmisi CVT sering kali masuk ke dalam radar pertimbangan. Syarif, pemilik All New Xenia tipe R 1.3 CVT rakitan 2021, membagikan pengalamannya selama mengandalkan LMPV ini sebagai mobil pertamanya. Daihatsu Xenia R 1.300 milik Syarif Unit milik Syarif tergolong masih segar dengan odometer kisaran 17.000 km, lantaran lebih sering digunakan untuk rute harian di area Depok, Jakarta, dan Bogor. Berdasarkan masa kepemilikannya, Syarif mengungkapkan ada sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami oleh calon konsumen. Kelebihan: Konsumsi BBM Irit Faktor utama yang menjadi nilai plus dari Xenia bermesin 1.300 cc ini adalah efisiensi bahan bakarnya. Daihatsu Xenia R 1.300 milik Syarif Untuk membelah jalur perkotaan yang padat, konsumsi BBM mobil ini tergolong memuaskan. "Kelebihan utamanya jelas di konsumsi bensinnya yang lumayan irit, bisa dapat di angka 13-14 km per liter untuk harian. Selain itu, karena kapasitas mesinnya di bawah 1.500 cc, mobil ini juga masih aman dan dibolehkan kalau mau diisi Pertalite," ujar Syarif kepada Kompas.com, belum lama ini. Efisiensi biaya operasional ini pula yang membuat Syarif mengurungkan niatnya untuk melakukan tukar tambah ke mobil dengan kapasitas mesin yang lebih besar. Menurutnya, di tengah fluktuasi harga bahan bakar non-subsidi, nilai ekonomis dari Xenia 1.300 cc justru meningkat karena sangat membantu menjaga bujet pengeluaran bulanan. Daihatsu Xenia R 1.300 milik Syarif Kekurangan: Karakter CVT Kalem dan Butuh Momentum di Tanjakan Meski menawarkan efisiensi yang tinggi, kombinasi mesin 1.300 cc dan transmisi CVT (Continuously Variable Transmission) milik Xenia ini memiliki konsekuensi pada sisi performa. Karakter penyaluran tenaganya dirasa kurang responsif bagi pengemudi yang menyukai gaya berkendara agresif. "Paling berasa minusnya kalau lagi di jalan tol, agak sulit dan butuh ancang-ancang lebih kalau mau overtake atau nyalip mobil lain," kata Syarif. Catatan lain yang perlu diperhatikan adalah performanya saat melewati medan menanjak. Syarif menjelaskan bahwa jika mobil hanya diisi sekitar tiga orang dan barang, jalur menanjak masih bisa dilewati dengan aman. Namun, ceritanya akan berbeda jika kabin diisi penuh oleh penumpang dan barang bawaan. "Kalau diisi penuh pas lewat tanjakan curam, jadi susah menanjak dan rawan selip kalau sampai kehilangan momentum. Jadi harus benar-benar hati-hati," tuturnya. Untuk menyiasati performa mesin yang moderat tersebut, Syarif kerap mengakalinya dengan menyelingi penggunaan jenis BBM dengan oktan yang lebih tinggi (tidak melulu Pertalite). Menurutnya, kualitas bahan bakar sangat berpengaruh terhadap responsivitas mesin saat pedal gas diinjak.