JAKARTA, KOMPAS.com - Peran pemerintah dalam membangun ekosistem motorsport nasional menjadi fondasi penting lahirnya pembalap Indonesia berprestasi dunia, meski kerap luput dari perhatian karena hasilnya tidak instan. Salah satu buktinya adalah pembangunan Sirkuit Mandalika sebagai venue internasional sekaligus sarana pembinaan pembalap. Selain infrastruktur, dukungan juga diberikan melalui pembinaan dan perhatian langsung, seperti saat Mario Aji dan Veda Ega Pratama bertemu Presiden Prabowo Subianto didampingi Erick Thohir jelang MotoGP Indonesia. Eddy Saputra, CEO Pride sekaligus promotor Kejuaraan Nasional Pertamina Mandalika Racing Series, mengatakan, keberhasilan pembalap Indonesia tidak terjadi secara instan. Ia menegaskan bahwa prestasi tersebut merupakan hasil dari kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem motorsport yang berkelanjutan. Eddy Saputra, CEO Pride sekaligus promotor Kejuaraan Nasional Pertamina Mandalika Racing Series “Prestasi pembalap Indonesia di level dunia adalah hasil dari ekosistem yang dibangun bersama. Ada pembinaan pembalap, kejuaraan nasional, peran IMI sebagai regulator, dukungan sponsor, serta peran pemerintah dalam membangun infrastruktur seperti Sirkuit Mandalika,” kata Eddy Saputra dalam keterangan resminya. Dalam beberapa tahun terakhir, hasil dari ekosistem motorsport nasional mulai terlihat. Sejumlah pembalap Indonesia berhasil menembus ajang internasional, seperti Veda Ega Pratama di Moto3, Mario Aji di Moto2, hingga Aldi Satya Mahendra yang meraih gelar juara dunia World Supersport300. Menurut Eddy, pencapaian tersebut ditopang oleh berbagai elemen, mulai dari pemerintah, regulator, hingga industri. Kejuaraan nasional, tim profesional, akademi balap, serta dukungan pabrikan dan sponsor menjadi kunci dalam mencetak pembalap berbakat. “Tanpa salah satu elemen ini, pembalap akan sangat sulit untuk naik ke level dunia,” tegasnya. Eddy menilai masih ada kesenjangan pemahaman publik soal peran pemerintah, akibat komunikasi yang belum menjelaskan kaitannya dengan prestasi atlet. Veda Ega Pratama “Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Semua saling terhubung dalam satu ekosistem,” kata Eddy. Menurut Eddy, persepsi publik banyak dipengaruhi media sosial yang lebih menonjolkan kritik, sehingga dukungan pemerintah sering disalahartikan. Eddy juga mengatakan, investasi besar seperti pembangunan Sirkuit Mandalika dan penyelenggaraan MotoGP dan Asia Road Racing Championship (ARRC) harus dilihat sebagai fondasi jangka panjang. Infrastruktur, exposure global, serta keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci lahirnya lebih banyak pembalap Indonesia yang mampu bersaing di level dunia. “Kalau dilihat jangka pendek memang tidak selalu terlihat hasilnya. Tapi dalam jangka panjang, inilah yang akan melahirkan pembalap-pembalap Indonesia kelas dunia,” ungkap Eddy. Aldy Satya Mahendra Ia juga menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan dua aspek penting dalam pembangunan ekosistem, yakni infrastruktur fisik dan sistem pendukung yang saling melengkapi. “Dalam konteks pembangunan ekosistem, pemerintah sejatinya telah menyiapkan dua aspek penting sekaligus, yakni hardware dan software. Infrastruktur fisik seperti sirkuit dan fasilitas pendukung menjadi hardware, sementara regulasi, penyelenggaraan event, hingga pembinaan menjadi bagian dari software . Kini, tinggal bagaimana semua pihak memaksimalkan,” kata Eddy. Lebih lanjut, Eddy Saputra menegaskan bahwa setiap pembalap harus melalui proses panjang untuk mencapai level dunia, tanpa jalan pintas. “Semua atlet pasti memiliki milestone atau tahap untuk bisa mencapai level dunia. Itu adalah sebuah proses panjang yang harus dijalani secara konsisten,” ujar Eddy. “Pada akhirnya, ini akan menjadi sebuah industri motorsport yang melibatkan semua stakeholder. Mulai dari pemerintah, regulator, pabrikan sepeda motor, sponsor, tim balap, promotor, hingga berbagai pihak lain yang terlibat dalam ekosistem ini,” kata Eddy Saputra. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang