Persiapan kendaraan menjadi hal penting sebelum melakukan perjalanan mudik Lebaran. Tidak hanya memeriksa kondisi mesin dan ban utama, pengemudi juga perlu memastikan ban serep dalam kondisi siap digunakan apabila terjadi keadaan darurat di perjalanan. Ban serep kerap luput dari perhatian karena jarang dipakai. Namun, komponen ini bisa menjadi penyelamat ketika ban utama mengalami kebocoran atau kerusakan saat perjalanan jauh, termasuk ketika melintasi jalur mudik yang padat dan panjang. Menurut Fachrul Rozi, Customer Engineering Support di Michelin Indonesia, pengemudi sebaiknya memastikan tekanan udara ban serep berada pada kondisi yang baik, bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan ban yang digunakan sehari-hari. “Ban serep biasanya disimpan lama dan jarang dipakai, jadi sebaiknya tekanannya dibuat sedikit lebih tinggi. Tujuannya agar ketika sewaktu-waktu dipasang, tekanannya tidak sudah dalam kondisi terlalu rendah,” kata Rozi kepada Kompas.com, Rabu (11/3/2026). Ilustrasi tekanan udara ban motor Ia menjelaskan, tekanan udara ban secara alami dapat berkurang seiring waktu, meski kendaraan tidak digunakan. Hal tersebut juga berlaku pada ban serep yang hanya disimpan di bagasi atau di bawah kendaraan. Karena itu, Rozi menyarankan pemilik mobil untuk melakukan pengecekan tekanan udara ban serep secara berkala. Idealnya, pemeriksaan dilakukan setidaknya satu bulan sekali agar kondisinya tetap terjaga. “Minimal sebulan sekali dicek tekanannya. Kita tidak pernah tahu kapan ban serep akan digunakan, apalagi saat perjalanan jauh seperti mudik,” ujarnya. Dengan memastikan tekanan udara ban serep tetap terjaga, pengemudi dapat mengurangi risiko kesulitan ketika harus mengganti ban di tengah perjalanan. Langkah sederhana ini juga dapat membantu perjalanan mudik menjadi lebih aman dan nyaman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang