Warga Malaysia isi BBM di SPBU Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap harga minyak dunia. Ketegangan geopolitik di kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi minyak global itu berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM di berbagai negara. Saat banyak pemerintah bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan harga energi dengan mengurangi subsidi atau menaikkan harga BBM, Malaysia justru memilih langkah berbeda. GULIR UNTUK LANJUT BACA Negara tetangga Indonesia itu mengaku pernah menggelontorkan subsidi dalam jumlah sangat besar agar harga BBM tetap terjangkau bagi masyarakat ketika dunia menghadapi krisis energi dan lonjakan harga minyak.Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan pemerintahnya tidak setuju menaikkan harga BBM meski saat itu biaya subsidi terus membengkak akibat kenaikan harga minyak dunia.Menurutnya, pemerintah lebih memilih menanggung beban tersebut dibanding membebankannya kepada masyarakat melalui kenaikan harga bahan bakar."Ketika harga minyak naik, kami membayar 5 miliar ringgit, 3 miliar ringgit per bulan, kemudian meningkat menjadi 7 miliar ringgit per bulan sebelum turun menjadi 4 miliar ringgit per bulan," kata Anwar, dikutip VIVA Otomotif dari Paultan, Senin 8 Juni 2026.Nilai tersebut setara dengan puluhan triliun rupiah setiap bulan. Jika subsidi sebesar 3 miliar ringgit diberikan selama 10 bulan, total anggaran yang harus disiapkan pemerintah mencapai 30 miliar ringgit.Anwar menjelaskan dana tersebut diperoleh melalui penghematan anggaran dan upaya menekan kebocoran keuangan negara. Karena itu, pemerintah tidak perlu menambah utang untuk mempertahankan subsidi energi. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Ia juga menolak usulan sejumlah pihak yang meminta pemerintah berutang demi menjaga harga BBM tetap murah. Menurutnya, utang yang dibuat saat ini pada akhirnya akan menjadi beban generasi mendatang. Karena itu, pemerintah memilih mencari solusi lain tanpa menambah kewajiban negara.Pernyataan tersebut kembali menjadi sorotan ketika harga minyak dunia berpotensi mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat banyak negara harus menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, termasuk terkait harga BBM.