Di tengah dorongan percepatan kendaraan listrik, mencapai 10 persen adopsi saja sebenarnya sudah menjadi tantangan besar di Indonesia. Angka tersebut bahkan disebut sebagai ambang awal dalam praktik umum agar teknologi baru bisa mulai diterima luas, tanpa mengganggu keseimbangan industri yang sudah ada. Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, mengatakan bahwa dalam proses adopsi inovasi, selalu ada fase awal yang harus dilalui sebelum teknologi benar-benar matang di pasar. “Kalau aslinya itu sekitar 10 persen, itu semacam best practice atau standar ideal. Dalam suatu ekosistem, untuk bisa sampai tahap matang, harus ada fase pengguna awal, dan biasanya adopsi cepat mulai terlihat ketika sudah menyentuh angka itu,” kata Sripeni kepada Kompas.com, Rabu (15/4/2026). Ia menjelaskan, kendaraan listrik masih tergolong sebagai teknologi baru di tengah dominasi kendaraan berbahan bakar minyak (BBM). Karena itu, dibutuhkan ambang batas tertentu agar adopsinya bisa mulai terbentuk secara masif tanpa menimbulkan resistensi dari pasar. Menurut Sripeni, angka 10 persen dianggap sebagai titik aman karena tidak akan langsung mengganggu industri kendaraan berbasis mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) yang saat ini masih mendominasi. SPKLU Center Signature berkapasitas 400 kW di Scientia Garden, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Fasilitas ultra fast charging yang mengusung teknologi split charger dengan liquid cooling system yang memungkinkan proses pengisian daya kendaraan listrik berlangsung lebih cepat dan efisien. “Ini barang baru. Di populasi yang sangat besar, 10 persen itu sebenarnya tidak mengganggu. Kekhawatiran bahwa industri lama akan terganggu itu belum relevan di tahap awal,” ujarnya. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada skala pasar kendaraan di Indonesia yang sangat besar. Dengan jumlah kendaraan yang mencapai ratusan juta unit, mencapai angka 10 persen membutuhkan upaya yang tidak kecil, baik dari sisi produksi, infrastruktur, maupun daya beli masyarakat. Ia mencontohkan, untuk mendorong satu juta unit kendaraan listrik saja masih menjadi pekerjaan rumah besar. Jika dibandingkan dengan total populasi kendaraan, angka tersebut bahkan belum mencapai 1 persen. “Gerakkan satu juta saja itu sudah besar, tapi terhadap total populasi, porsinya masih sangat kecil. Itu saja belum tercapai,” kata dia. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) pada kuartal pertama 2026 mencapai sekitar 33.150 unit. Sementara sepanjang 2025, total penjualan kendaraan elektrifikasi, termasuk hybrid, mencapai sekitar 175.000 unit. Angka tersebut masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total pasar mobil nasional yang berada di kisaran 800.000 unit per tahun. Di sisi lain, berdasarkan data Kementerian Perhubungan melalui Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT), populasi kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia telah menembus lebih dari 274.000 unit hingga pertengahan 2025. Jumlah tersebut mencakup berbagai jenis kendaraan, mulai dari motor, mobil, hingga bus listrik, dan diperkirakan terus bertambah seiring peningkatan penjualan dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, jika melihat populasi kendaraan secara keseluruhan, jumlah kendaraan listrik di Indonesia saat ini diperkirakan masih berada di kisaran ratusan ribu unit. Angka tersebut sangat kecil dibanding total kendaraan bermotor nasional yang mencapai lebih dari 100 juta unit. Dengan demikian, pangsa kendaraan listrik saat ini diperkirakan masih jauh di bawah 1 persen dari total populasi kendaraan. Karena itu, ia menekankan bahwa angka 10 persen seharusnya dipahami sebagai target bertahap yang realistis, bukan sekadar ambisi jangka pendek. Tanpa fondasi yang kuat di fase awal, adopsi kendaraan listrik berisiko tidak berkelanjutan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang