Low Cost Green Car (LCGC) masih menjadi pilihan bagi masyarakat yang baru pertama kali membeli mobil. Namun, Toyota melihat sebagian konsumen mulai mempertimbangkan kendaraan hybrid. Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM) Bansar Maduma mengatakan, LCGC memang sejak awal ditujukan untuk konsumen yang belum pernah memiliki kendaraan. "Kalau yang LCGC, teman-teman tahu bahwa kenapa LCGC ini hadir di Indonesia? Itu untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi konsumen yang belum pernah memiliki kendaraan. Which is first buyer," kata Bansar saat ditemui di GIIAS 2026, ICE BSD City, Tangerang belum lama ini. Veloz Hybrid EV "Dan itu masih, jadi kalau untuk konsumen, terutama first buyer, mereka masih percaya bahwa LCGC is the right choice," ujarnya. Pembeli Pertama Mulai Lirik Hybrid Meski demikian, Toyota menemukan adanya pembeli mobil pertama yang memilih langsung kendaraan hybrid. Salah satunya terlihat pada Toyota Veloz Hybrid. Model tersebut, kata Bansar, turut dihadirkan untuk memberikan pilihan elektrifikasi bagi konsumen keluarga. "Jadi memang, kenapa juga kita mengintroduce Velos Hybrid ini kan sebetulnya untuk membuka seluas-seluasnya, untuk memberikan kesempatan untuk konsumen, terutama keluarga," kata dia. "Jadi memang kalau dilihat bahwa ada yang first buyer, ada investment buyer, ada additional buyer. First buyer di Velos Hybrid juga cukup tinggi walau tidak setinggi LCGC," lanjut Bansar. Dengan demikian, hybrid mulai masuk dalam pertimbangan sebagian pembeli mobil pertama, meski LCGC masih memiliki basis konsumen yang lebih besar. Sementara itu, pembeli mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) memiliki karakter berbeda. Toyota melihat konsumen BEV saat ini lebih banyak membeli kendaraan sebagai mobil tambahan di rumah. Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor Bansar Maduma dan Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor Hiroyuki Oide bersama bZ4X Touring Battery EV "Karena memang kalau kami lihat ya, bahwa sekarang itu kebanyakan pembeli BEV itu adalah lebih ke arah customer yang ingin membeli mobil tambahan di rumahnya. Jadi kita sebutnya additional buyer." "Dan yang mempilih sebetulnya kemampuan finansial lebih tinggi dibandingkan pembeli LCGC," ujar Bansar. Multi-Pathway Strategy Perbedaan karakter konsumen tersebut menjadi salah satu pertimbangan Toyota dalam menjalankan strategi elektrifikasi di Indonesia. Toyota menerapkan strategi Multi-Pathway dengan menyediakan beragam teknologi, mulai dari mesin pembakaran internal (ICE), hybrid, hingga BEV. "Untuk saat ini, pastinya adalah ICE masih menjadi figure portion. Terus kemudian kami juga melihat bahwa untuk transisi ke arah benar-benar net zero itu adalah hybrid," ujar Bansar. Pandangan tersebut muncul di tengah pertumbuhan pasar kendaraan elektrifikasi yang semakin kuat. Berdasarkan data wholesales Gaikindo, penjualan HEV, PHEV, dan BEV pada Januari-Juni 2026 mencapai 117.108 unit. Angka tersebut naik 69,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 69.134 unit. BEV menjadi kontributor terbesar dengan penjualan 69.739 unit, tumbuh 80,8 persen dari 38.576 unit pada semester I/2025. Penjualan HEV mencapai 42.366 unit atau naik 47 persen dari 28.817 unit. Sementara PHEV mencatatkan 5.003 unit, melonjak 187,4 persen dari 1.741 unit. Secara keseluruhan, kendaraan elektrifikasi menyumbang sekitar 26,8 persen dari total wholesales kendaraan nasional yang mencapai 436.564 unit pada semester I/2026. Di Toyota, kontribusi kendaraan elektrifikasi juga semakin besar. Pada semester I/2026, Toyota mencatat penjualan 133.000 unit dengan pangsa pasar 30,7 persen. "Secara komposisi, kontribusi penjualan elektrifikasi kami saat ini sudah mencapai 21 persen dari total penjualan Toyota. Jadi, satu dari lima kendaraan Toyota yang terjual pada semester I/2026 sudah menggunakan teknologi elektrifikasi," tutur Marketing Director TAM Hiroyuki Oide.