Pasar otomotif di Indonesia masih sangat menarik di mata produsen mobil. Meskipun saat ini terjebak dalam penjualan satu juta unit per tahun, pasar otomotif di Indonesia disebut-sebut masih memiliki potensi market hingga tujuh juta unit penjualan per tahun."Kalau rasio kepemilikan mobil di Indonesia bisa mendekati Thailand, market Indonesia itu bisa tiga juta (unit per tahun). Itulah kenapa orang menganggap Indonesia masih menarik," buka Sales & Channel Development Director Geely Auto Indonesia, Constantinus Herlijoso, di arena IIMS 2026, JIExpo, Kemayoran (5/2). "Bahkan, market Indonesia bisa menjadi tujuh juta (unit per tahun) gitu kan. Wah, ini lebih menarik lagi, karena ini akan lebih besar dari Eropa, 18 negara Eropa. Kalau kita bisa rasio kepemilikan (mobil) sama dengan Malaysia, (market) kita bisa lebih besar dari Eropa. Jadi market di Indonesia masih sangat potensial," terang Herlijoso.Sebagai informasi, rasio kepemilikan mobil di Indonesia memang masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Berdasarkan data Vehicles in Use 2024 yang dirilis lembaga International Organization of Motor Vehicle Manufacturers (OICA), rasio kepemilikan mobil atau car ownership ratio (COR) Indonesia hanya 99 unit per 1.000 orang penduduk. Angka ini jauh di bawah Malaysia yang mencapai 490, Thailand 275, dan Singapura 211.Rasio kepemilikan mobil yang kecil ini pun menjadi bahan pemikiran Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) selama bertahun-tahun. Salah satu sebab kenapa rasio kepemilikan mobil di Indonesia kecil adalah karena harga mobil yang mahal gara-gara pajak tinggi."Kalau kita lihat potensi kita itu besar. Bertahun-tahun saya hitung sampai bosan, (rasio kepemilikan) 99 mobil, padahal penduduk kita jumlahnya sampai 280 juta. Ternyata salah satunya (penyebabnya), pajak kita paling mahal (di antara negara Asia Tenggara)," ujar Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara dalam diskusi EVolution Indonesia Forum, yang digelar CNN Indonesia, di Jakarta (3/2).Kukuh menganalogikan sebuah produk mobil keluar dari pabrik harganya Rp 100 juta, konsumen membayarnya Rp 150 juta. Artinya yang Rp 50 juta adalah pajak. Jadi gara-gara pajak yang tinggi, kemampuan daya beli masyarakat terhadap mobil sangatlah rendah.