Memiliki mobil hybrid dan electric vehicle (EV) saat ini sudah semakin banyak pilihannya. Apalagi mulai harga Rp 200 jutaan, konsumen sudah bisa mendapatkan mobil listrik ringkas yang pas untuk penggunaan perkotaan. Tetapi, menggunakan mobil listrik tidak bisa sekadar asal pakai. Memang secara biaya operasional harian jauh lebih efisien, tetapi jika harus mengganti suku cadang tertentu, pemilik harus bersiap dengan harganya yang lebih mahal dibanding mobil konvensional. Andrew Jonathan, Manager Domo Hybrid EV, menjelaskan bahwa calon pemilik mobil hybrid maupun EV seharusnya sudah memahami risikonya sejak awal, sebab harga suku cadang kendaraan elektrifikasi pasti berbeda dengan mobil biasa. “Sebenarnya orang harusnya sudah lebih aware. Kalau sudah mengenai hybrid dan EV, pasti komponennya khusus semua,” ujar Andrew kepada Kompas.com, Selasa (6/10/2026). Ilustrasi aki mobil Oli AC Khusus Hingga Aki i-Stop Salah satu komponen yang membutuhkan biaya ekstra adalah sistem pendingin udara (AC). Kompresor AC pada mobil listrik dan hybrid membutuhkan cairan pelumas khusus bersifat isolator yang tidak menghantarkan arus listrik. “Seperti oli AC, kita spread awareness, edukasi terus, kalau olinya berbeda. Sebenarnya oli khususnya kan mahal banget, tapi ada alternatif lainnya juga, beberapa,” kata Andrew. Selain itu, sektor aki 12 Volt pada mobil hybrid juga memerlukan spesifikasi yang berbeda dibanding mobil bensin biasa. “Terus aki 12 Volt, buat hybrid sudah pasti pakai aki yang i-stop (auto start-stop), karena kan mesinnya mati-nyala. Mahal sedikit, enggak signifikan, biasanya selisihnya Rp 1 jutaan, enggak sampai Rp 2 jutaan, tergantung merek,” lanjutnya. Risiko Kaki-kaki dan Void Garansi Mengenai mobil listrik murni (EV), Andrew mengingatkan bahwa harga belinya yang terjangkau harus diimbangi dengan kesiapan biaya perbaikan suku cadang pendukung serta komponen tegangan tinggi (high voltage). “Untuk mobil EV, harga belinya memang sangat murah. Cuma perlu diperhatikan lagi, belum biaya seperti kaki-kaki, atau misalnya ada yang rusak, komponen listrik high voltage kenapa-kenapa. Itu yang perlu disadari lagi,” tutur Andrew. Ia juga mengingatkan agar pemilik kendaraan tidak memperlakukan mobil elektrifikasi secara sembarangan hanya karena merasa perawatannya minim. Penggunaan yang asal-asalan hingga modifikasi sepele justru berpotensi menggugurkan klaim garansi resmi pabrikan. Perawatan mobil listrik di Domo Hybrid EV “Bukan berarti beli EV atau hybrid dipakai semaunya, enggak juga. Toh buktinya bisa void garansi cuma karena hal sepele,” ucap Andrew. Calon konsumen maupun pemilik kendaraan elektrifikasi, sangat disarankan untuk tetap disiplin melakukan perawatan berkala serta tidak sembarangan melakukan modifikasi komponen di luar ketentuan pabrikan. Memahami karakter suku cadang khusus serta menjaga status garansi resmi tetap aktif menjadi kunci utama agar estimasi biaya kepemilikan mobil hybrid maupun EV tetap hemat dan efisien dalam jangka panjang.