Rombongan MotoGP mengalami kekacauan gara-gara perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel. Serangan itu memaksa maskapai penerbangan untuk membatalkan ribuan penerbangan.Kepulangan rombongan MotoGP dari Thailand menuju Eropa berubah menjadi drama. Konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah memaksa Bandara Dubai ditutup, membuat ratusan kru dan pebalap kelas bawah harus memutar otak demi bisa pulang ke rumah. Bandara Internasional Dubai, yang biasanya menjadi titik transit utama penerbangan dari Thailand ke Eropa, resmi ditutup sejak Minggu malam. Meski para pebalap bintang di kelas utama (MotoGP) relatif aman karena mayoritas menggunakan jet pribadi, nasib berbeda dialami oleh kru mekanik, staf tim, hingga pebalap Moto2 dan Moto3.Bagi pebalap yang terjebak, opsi yang tersedia sangat terbatas dan mahal. Ironisnya, harga tiket kelas ekonomi sekali jalan dari kawasan terdampak menuju Eropa meroket tajam di kisaran 3.000 hingga 6.000 Euro (Rp 51 juta hingga Rp 117 jutaan).Tim-tim besar harus bergerak cepat melakukan pemesanan ulang secara massal. Tim Intact GP, misalnya, terpaksa mengalihkan rute penerbangan mereka melalui China."Beberapa orang kami terdampak, tapi kami berhasil memesan ulang penerbangan lewat China," ungkap Karina Homilius, Koordinator Tim Intact GP dikutip dari Speedweek.Sementara itu, Manajer Tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, mengaku beruntung karena sudah memesan tiket via Istanbul, Turki, jauh-jauh hari."Saya beruntung terbang lewat Istanbul. Tapi saya tahu banyak tim yang terkena dampak kekacauan ini," ujar Tardozzi.Pabrikan asal Austria, KTM, tak mau ambil pusing dengan ketidakpastian jadwal komersial. Selain membagi tim ke berbagai maskapai, mereka juga mengorganisir pesawat charter khusus untuk mengangkut personel mereka."Beberapa rekan terbang ke Milan pada Senin malam dengan pesawat charter khusus personel MotoGP. Dari sana, baru mereka lanjut ke kota-kota besar di Eropa," jelas Manajer Balap KTM, Jens Hainbach.