Mobil listrik dengan sistem penggerak roda belakang atau rear-wheel drive (RWD) semakin banyak ditemui di Indonesia. Karakter penggerak roda belakang juga kerap dikaitkan dengan potensi oversteer, terutama ketika mobil melaju di jalan licin atau basah. Kekhawatiran tersebut semakin besar pada mobil listrik karena motor listrik mampu menghasilkan torsi secara instan. Kondisi ini membuat pengemudi, terutama yang masih pemula, perlu memahami karakter mobil ketika melewati permukaan jalan dengan daya cengkeram rendah. Lantas, apakah mobil listrik RWD memang lebih rentan mengalami oversteer ketika dikendarai di jalan basah? Menurut Lung Lung, pemilik bengkel spesialis Dokter Mobil di Jakarta, karakter RWD bukan menjadi satu-satunya faktor yang menentukan kecenderungan mobil mengalami oversteer. Ia mengatakan, bobot kendaraan justru menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat karakter pengendalian mobil. "Beban mobil menjadi faktor utama daripada RWD. Karena beban itu cenderung membuat mobil understeer," ujar Lung Lung, kepada Kompas.com, belum lama ini. Bobot Mobil Ikut Memengaruhi Karakter Pengendalian Secara sederhana, understeer terjadi ketika mobil cenderung melebar dari arah belokan yang diinginkan pengemudi. Sementara oversteer terjadi ketika bagian belakang mobil kehilangan traksi sehingga mobil cenderung berputar lebih banyak ke arah tikungan. Pada mobil listrik, bobot kendaraan umumnya cukup besar karena adanya baterai berkapasitas besar. Kondisi tersebut turut memengaruhi respons mobil ketika melakukan manuver. Meski demikian, bobot yang besar bukan berarti mobil listrik otomatis terbebas dari risiko kehilangan traksi. Kondisi ban tetap menjadi salah satu faktor penting, terlebih ketika kendaraan melaju di jalan basah. Ilustrasi oversteer Training Director Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, mobil dengan penggerak RWD memang memiliki kecenderungan mengalami oversteer ketika traksi roda belakang berkurang. Menurut dia, kondisi tersebut akan semakin berisiko apabila mobil digunakan di jalan licin dengan kondisi ban yang sudah tidak optimal. “Mobil bisa lari ke mana-mana, jadi bisa menyebabkan kasus fatal mobil keluar jalur, berputar, bahkan sampai terbalik. Untuk mencegah salah satunya dengan perawatan ban, dan rutin cek kondisi permukaan ban, sehingga ketahuan masih layak atau rusak,” ucap Sony. Kondisi Ban Jadi Faktor Penting Ban yang sudah aus membuat kemampuan ban dalam mencengkeram permukaan jalan menurun. Ketika melewati jalan basah, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko ban kehilangan traksi dan mengalami selip. Risiko tersebut juga bukan hanya muncul ketika mobil melewati tikungan tajam. Sony mengatakan, oversteer dapat terjadi ketika pengemudi melakukan manuver secara berlebihan, termasuk saat berusaha menghindari sesuatu pada kecepatan tinggi. “Traksi ban yang buruk bisa berpeluang besar menyebabkan mobil menjadi limbung,” kata Sony. Karena itu, kondisi ban perlu menjadi perhatian, terutama bagi pemilik mobil listrik RWD yang sering berkendara di tengah kondisi cuaca hujan. Selain memastikan tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan, pengemudi juga perlu memeriksa ketebalan tapak ban dan memastikan tidak ada kerusakan pada permukaannya. Chery Q resmi diperkenalkan di Indonesia Torsi Instan Bukan Berarti Mobil Langsung Oversteer Karakter torsi instan pada motor listrik memang membuat respons pedal akselerator terasa lebih cepat dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. Namun, hal tersebut tidak berarti setiap mobil listrik RWD akan langsung mengalami oversteer ketika pedal gas diinjak. Mobil listrik modern umumnya sudah dilengkapi sistem seperti traction control dan electronic stability control yang membantu mengurangi selip dan menjaga arah kendaraan. Meski demikian, sistem elektronik tetap bekerja berdasarkan kondisi traksi yang tersedia. Jika ban sudah kehilangan kemampuan mencengkeram permukaan jalan, pengemudi tetap perlu mengendalikan mobil dengan input yang halus. Sony mengingatkan pengemudi untuk mengurangi kecepatan sebelum memasuki tikungan, bukan melakukan pengereman mendadak ketika mobil sudah berada di dalam tikungan. “Jauh-jauh dari awal masuk tikungan, rem diimbangi engine brake. Jadi, saat belok kecepatan mobil stabil. Steering mudah terkontrol dan traksi ban aman,” ucap dia. Dengan demikian, pengemudi pemula tidak perlu hanya berfokus pada karakter RWD atau torsi instan motor listrik. Kecepatan, kondisi permukaan jalan, kondisi ban, serta cara pengemudi memberikan input pada pedal dan kemudi juga menentukan risiko kehilangan traksi. Terlebih ketika jalan dalam kondisi basah, mengemudi dengan kecepatan yang lebih terkontrol dan menghindari manuver secara mendadak menjadi bagian penting untuk menjaga mobil tetap stabil.