DC Charger bisa menjadi pilihan menarik bagi pemilik kendaraan listrik (EV) yang membutuhkan pengisian daya dalam waktu lebih singkat. Namun, perangkat ini membutuhkan daya listrik besar dan biaya pemasangan yang jauh lebih tinggi dibandingkan wall charger AC untuk penggunaan di rumah. Ninis Ribang, Public Relation PT Tri Energi Berkarya (TEB), distributor produk pengisian daya kendaraan listrik, mengatakan perangkat DC Charger sebenarnya tetap memungkinkan dipasang di rumah. Hanya saja, kebutuhan daya dan investasinya perlu menjadi pertimbangan. Ilustrasi wall charger mobil listrik "Sebenarnya kami tidak melarang, (ada mesin DC) Delta charger kan unit yang kami punya sekarang, contohnya paling kecil 25 kW atau 30 kW yang DC. Berarti daya yang kita butuhkan 33.000 VA minimal," ujar Ninis, kepada Kompas.com di ICE BSD City, Tangerang, belum lama ini. Dengan kebutuhan daya tersebut, pemasangan DC Charger tidak sesederhana memasang charger AC untuk kebutuhan rumah tangga. Pemilik harus mempertimbangkan kapasitas listrik, meteran, instalasi, hingga sumber daya yang dibutuhkan. Harga Mesin DC Charger mulai Rp 130 Juta Dari sisi perangkat, harga DC Charger juga tergolong tinggi. Ninis mengatakan, untuk unit dengan kemampuan tersebut, harganya bisa mencapai sekitar Rp 130 juta. "Dan DC itu secara harga itu lumayan mirip sama harga mobilnya. Kayak ini harganya Rp 130 juta. Belum materialnya. Ke meteranya, sumber dayanya itu belum. Baru unit mesinnya saja," katanya. Ilustrasi pelanggan sedang mengisi daya kendaraan listrik di rumahnya. Hingga saat ini, total lebih dari 92.000 pelanggan telah menikmati kemudahan layanan Home Charging Services dari PLN di mana terdapat penambahan 21.865 pelanggan baru pada periode Januari hingga Juni 2026. Jumlah penambahan tersebut naik 9,04 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 20.053 pelanggan. Artinya, angka Rp 130 juta tersebut belum mencakup keseluruhan biaya pemasangan. Konsumen masih perlu mengeluarkan biaya untuk kebutuhan material, meteran, instalasi kelistrikan, serta sumber daya pendukung lainnya. Karena itu, menurut Ninis, DC Charger lebih masuk akal digunakan pada area komersial atau lokasi yang membutuhkan layanan pengisian cepat untuk banyak kendaraan. "Makanya kenapa DC itu disarankan untuk residensial atau public, area komersil lah," ucapnya. SPKLU Ultra Fast Charging pertama diresmikan di Bali Cocok untuk Konsumen dengan Banyak Mobil Listrik Meski demikian, DC Charger bisa menjadi pertimbangan bagi konsumen yang memiliki lebih dari satu mobil listrik dan membutuhkan pengisian dalam waktu singkat. Ninis menjelaskan, penggunaan wall charger AC di rumah lebih cocok untuk pengisian dalam waktu lama, misalnya dilakukan pada malam hari ketika kendaraan tidak digunakan. "Sebenarnya kalau home charging ini tuh kan emang diperuntukkan untuk ngecas di rumah sepanjang malam. Maksudnya yang waktunya panjang lah," ujar Ninis. SPKLU Astra Infra Persoalan mulai muncul ketika satu rumah memiliki dua mobil listrik yang sama-sama digunakan setiap hari. Dengan hanya satu charger, kedua kendaraan harus mengantre untuk mendapatkan pengisian daya. "Jadi kalau misalnya emang kita punya dua mobil dengan satu charger yang kita pasang, nah itu berarti kita otomatis harus gantian," katanya. Menurut Ninis, kebutuhan charger juga perlu disesuaikan dengan pola penggunaan kendaraan. Jika kedua mobil sama-sama dipakai setiap hari, kebutuhan pengisian akan semakin sering sehingga satu charger mungkin tidak cukup. "Jadi itu kenapa kita inginkan mungkin kalau misalnya emang buat daily semuanya ya kita memasangnya enggak cuma satu. Karena waktunya enggak cukup. Kecuali di kantornya ada DC atau di kantornya ada charger lagi mungkin itu lebih aman," ucap Ninis.