Kandungan energi dan research octane number (RON) merupakan dua parameter yang terkandung pada bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin. Meski keduanya kerap dikaitkan dengan performa kendaraan, faktanya mereka tak sama. RON lebih akrab dengan konsumen, lantaran di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) semakin tinggi RON harganya semakin mahal. Parameter ini juga kerap dikaitkan dengan kualitas suatu bensin. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan RON dan kandungan energi pada bensin merupakan dua hal berbeda dan tak saling berhubungan secara langsung. “Kandungan energi terdapat pada base fuel, sementara oktan pada aditif atau zat tambahan yang dicampurkan ke bensin, dari segi tujuan juga berbeda, kandungan energi untuk meningkatkan tenaga, oktan untuk menghindari knocking,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Jayan mengatakan semakin besar kandungan energi akan membuat tenaga yang tercipta lebih besar. Sehingga, gaya dorong yang dihasilkan lebih besar, dampaknya kendaraan bisa lebih kencang dan irit BBM. “Sementara RON dibikin berbeda-beda karena tujuan menyesuaikan dengan rasio kompresi pada mobil, mobil-mobil modern lebih tinggi, agar tidak terjadi knocking dibkinlah bensin RON tinggi,” ucap Jayan. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell di wilayah Jakarta mengalami kekosongan bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis bensin. Knocking akan membuat bahan bakar meledak terlebih dulu sebelum busi memercikkan bunga api. Sehingga, dapat menghambat tenaga yang dihasilkan. “Meski tak ada hubungan langsung, RON dan kandungan energi bisa saling kerja sama untuk menghasilkan tenaga optimal pada kendaraan, RON tinggi, kandungan energi tinggi dipakai di mesin kompresi tinggi hasilnya akan optimal,” ucap Jayan. Sayangnya, aditif untuk menaikkan angka RON, seperti etanol, justru bisa membuat kandungan energi bensin turun. Sehingga, menciptakan bensin dengan kriteria di atas sulit tercapai. Masyarakat yang mengantre untuk mengisi BBM di SPBU Pertamina di Jalan Rajawali Surabaya, Jumat (31/010/2025) Tri Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pakar bahan bakar dan pelumas, mengatakan campuran etanol akan membuat kandungan energi pada bensin menurun karena keduanya punya energi masing-masing. “Campuran bensin dan etanol (gasohol) E10 atau 10 persen etanol akan membuat kandungan energinya menurun sekitar 3 persen daripada bensin murni,” ucap Tri belum lama ini. Sebagai tambahan informasi, kandungan energi pada etanol antara 26,8 - 29,7 MJ/kg, atau rata-rata 28,25 MJ/kg, sedangkan kandungan energi bensin sekitar 40 MJ/kg. Bila dihitung secara matematis untuk gasohol 10 persen atau E10, maka kandungan energinya = 10 persen x 28,25 + 90 persen x 40 = 38,83 MJ/kg atau turun {(40 - 38,83)/40} x 100 persen = 2,94 persen atau 3 persen. Jadi, bensin dengan angka oktan tinggi belum tentu memiliki kandungan energi tinggi, sehingga konsumen tak perlu terpaku pada angka RON saja untuk meningkatkan performa kendaraan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.