Pemerintah RI melalui Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan tidak akan memberikan insentif untuk pembelian sepeda motor listrik pada tahun 2026. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk kondisi fiskal negara, termasuk perhitungan biaya dan manfaat. Hasilnya, insentif motor listrik tidak dimasukkan sebagai usulan utama insentif sektor otomotif kepada Kementerian Keuangan. Ilustrasi motor listrik Honda di IIMS 2025 “Motor listrik tidak diberikan insentif tahun ini. Pertimbangannya di mana kita memahami kekuatan fiskal seperti apa. Cost and benefit mana yang paling tinggi, lebih bermanfaat bagi perekonomian keseluruhan,” katanya dikutip dalam gelaran Indonesia Semiconductor Summit 2026 di Bandung, Jumat (30/1/2026). Agus berharap kepastian ini dapat mengakhiri spekulasi di masyarakat. Dengan demikian, pasar motor listrik diharapkan tetap bergerak tanpa menunggu subsidi pemerintah. Menurut dia, pengembangan ekosistem kendaraan listrik roda dua tetap menjadi perhatian jangka panjang pemerintah. Peluang pemberian insentif disebut masih terbuka pada 2027. Namun, hal tersebut bergantung pada hasil evaluasi lanjutan dan kondisi fiskal ke depan. Di sisi lain, industri sepeda motor listrik nasional memasuki 2026 dengan target yang lebih realistis, namun tetap optimistis. Keseruan pengunjung Jakarta Fair 2023 yang mencoba melakukan cek penerima subsidi motor listrik Rp 7 juta dari pemerintah Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi mengatakan, fokus pelaku industri kini bukan lagi mengejar pertumbuhan agresif. Menurut dia, prioritas utama adalah menjaga tren peningkatan penjualan secara bertahap, setelah pada 2025 membukukan sekitar 55.059 unit berdasarkan data SRUT Kemenhub. “Tahun ini kita enggak muluk-muluk. Kalau sekarang 55.000 unit, kalau tahun 2026 kita targetkan naik 25.000 unit, berarti bisa mencapai 75.000 unit,” ujar Budi kepada Kompas.com dalam kesempatan terpisah. Untuk mencapai target tersebut, Aismoli telah menyiapkan tiga skema proyeksi, yakni optimistis, moderat, dan pertengahan. Namun, dengan kepastian tidak adanya subsidi pada 2026, pelaku industri lebih mengandalkan strategi internal dan penguatan ekosistem. Budi menyebut, kondisi tersebut membuat target penjualan disusun secara lebih realistis. Target 75.000 unit dinilai cukup baik jika kondisi pasar tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. “Kami juga tidak terlalu berharap subsidi. Kalau sama seperti 2025, target 75.000 unit saja sudah cukup bagus. Tapi kalau kita lakukan berbagai strategi, kami optimis bisa sampai minimal 100.000 unit,” ucap Budi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang