Kasus kecelakaan di Bandung yang menewaskan seorang polisi, melibatkan seorang mahasiswa berinisial A. Ini menjadi pengingat bahwa mengemudi dalam kondisi mabuk memiliki risiko besar, bukan hanya bagi pengemudi, tetapi juga pengguna jalan lain. A diketahui mengemudikan mobil setelah mengonsumsi minuman keras hingga akhirnya menabrak anggota Sabhara Polrestabes Bandung, Aiptu Asep Suhara, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang usai patroli gabungan. Korban meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Dalam pemeriksaan, A mengaku sebelumnya mengonsumsi minuman keras di kawasan Simpang Lima, Kota Bandung. Setelah itu, dirinya meminjam mobil milik temannya untuk membeli rokok. "Iya betul, malam itu saya mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Minumnya di kedai Simpang Lima, saat minum ada lebih dari lima orang," kata A, dikutip , Rabu (12/8/2026). A juga mengaku tidak menyadari telah menabrak korban saat kejadian berlangsung. Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, proses hukum terhadap A tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku. Menurutnya, kasus tersebut menjadi bagian dari keterbukaan penegakan hukum. Bahaya Minum Alkohol Mengemudi membutuhkan konsentrasi penuh, mulai dari membaca kondisi jalan, menjaga arah kendaraan, memperkirakan jarak, hingga mengambil keputusan dalam waktu singkat. Saat seseorang berada di bawah pengaruh alkohol, kemampuan tersebut dapat menurun karena fungsi otak yang berkaitan dengan fokus dan respons ikut terganggu. Ilustrasi berkendara dengan Changan Deepal S07 Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, alkohol dapat membuat pengemudi kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri maupun kendaraan yang dikemudikan. “Jangankan untuk mengontrol kendaraan, menjaga keseimbangan diri sendiri saja tidak bisa. Sehingga ketika pengemudi harus mengambil keputusan responnya akan sangat lambat,” ucap Sony. Menurut Sony, kondisi tersebut membuat pengemudi lebih berisiko melakukan kesalahan saat berada di jalan. Bahkan, kecelakaan bisa terjadi karena pengemudi terlambat merespons situasi yang sebenarnya masih bisa dihindari. Tidak Ada Batas Aman Berkendara Setelah Minum Alkohol Sebagian pengemudi masih menganggap konsumsi alkohol dalam jumlah sedikit tidak akan banyak berpengaruh terhadap kemampuan berkendara. Namun, Sony menjelaskan bahwa berapa pun kadar alkohol yang dikonsumsi tetap dapat memengaruhi kewaspadaan pengemudi. "Seharusnya pengemudi sadar dan mengambil keputusan untuk tidak berkendara. Ingat, saat mengemudi butuh kewaspadaan yang tinggi," kata Sony. Menurutnya, keputusan paling aman setelah mengonsumsi minuman beralkohol adalah tidak mengendarai kendaraan dan mencari alternatif transportasi lain.Sanksi Berat Menanti Pengemudi Mabuk Kecelakaan lalu lintas di Jalan Jenderal Soeharto, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (11/1/2026) pagi. Sanksi Mengemudi Dalam Keadaan Mabuk Selain berisiko menyebabkan kecelakaan fatal, mengemudi dalam kondisi mabuk juga memiliki konsekuensi hukum. Pengemudi yang mengendarai kendaraan dengan cara atau kondisi yang membahayakan nyawa orang lain dapat dikenakan Pasal 311 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Jika tindakan tersebut menyebabkan kecelakaan hingga korban meninggal dunia, pelaku dapat dikenakan pidana penjara paling lama 12 tahun atau denda maksimal Rp24 juta. Sony mengatakan, pengemudi yang tetap membawa kendaraan dalam kondisi mabuk sebenarnya sudah mengetahui adanya risiko yang bisa terjadi. "Pengemudi tersebut bisa dikenakan pasal pembunuhan berencana, yakni Pasal 340. Mengapa? Karena yang bersangkutan sudah paham risikonya, namun tetap melakukan hal tersebut," kata Sony. Meski demikian, penerapan pasal tetap menjadi kewenangan aparat penegak hukum berdasarkan hasil penyidikan dan proses persidangan. Mengemudi Butuh Kesadaran Penuh Kasus mahasiswa menabrak polisi hingga meninggal dunia menjadi pengingat bahwa keselamatan berkendara dimulai dari keputusan sederhana sebelum menyalakan kendaraan. Jika kondisi tubuh tidak siap, termasuk setelah mengonsumsi alkohol, maka pilihan terbaik adalah tidak mengemudi. Sebab, satu keputusan yang dianggap sepele dapat berujung pada kecelakaan fatal dan merenggut nyawa orang lain di jalan.