Mengerem setengah atau menahan rem secara terus-menerus saat berkendara di jalan menurun merupakan kebiasaan yang cukup sering dilakukan oleh pengendara. Banyak orang berpikir bahwa menekan rem sedikit namun terus-menerus dapat menjaga kecepatan kendaraan tetap stabil. Padahal, cara ini justru dapat menimbulkan berbagai risiko yang berbahaya bagi keselamatan berkendara. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan ketika rem ditekan secara terus-menerus, komponen rem seperti kampas dan cakram akan bekerja tanpa jeda. “Gesekan yang terjadi secara konstan akan menghasilkan panas yang semakin meningkat. Jika panas tersebut terus bertambah, suhu sistem pengereman bisa mencapai tingkat yang sangat tinggi,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Kamis (12/3/2026). Suhu yang terlalu tinggi pada sistem rem dapat menyebabkan penurunan kemampuan pengereman, baik kampas rem terbakar atau minyak rem mendidih. “Suhu sangat tinggi akan merambat dari piston ke minyak rem, sehingga minyak bisa mendidih dan menghasilkan gelembung udara, udara yang terperangkap akan membuat pedal rem terasa dalam dan daya dorong menjadi kurang maksimal, fenomena ini disebut vapor lock,” ucap Imun. Pengecekan rem mobil di bengkel Suzuki Kondisi yang kedua, dikenal sebagai brake fading, yaitu ketika rem masih ditekan tetapi daya cengkeramnya terhadap roda berkurang. Akibatnya kendaraan tidak dapat melambat atau berhenti seefektif biasanya. Panas berlebih akan membuat kampas rem terbakar sehingga permukaan yang bergesekan dengan tromol atau cakram menjadi lebih licin. Mengerem setengah di jalan menurun juga berisiko membuat komponen rem menjadi lebih cepat aus. Kampas rem yang terus bergesekan akan menipis lebih cepat dari kondisi normal. Hal ini tidak hanya meningkatkan biaya perawatan kendaraan, tetapi juga meningkatkan risiko kegagalan rem jika tidak segera diganti. Salah satu mobil yag ringsek akibat kecelakaan beruntun di Tol JORR arah Pondok Pinang, Selasa (10/3/2026). “Permukaan cakram dapat menjadi tidak rata atau bahkan melengkung. Kerusakan ini dapat menyebabkan getaran saat pengereman dan menurunkan kestabilan kendaraan,” ucap Imun. Kebiasaan mengerem setengah juga dapat membuat pengemudi kehilangan kontrol terhadap kecepatan kendaraan. Jika rem mulai kehilangan daya akibat panas, kendaraan bisa melaju lebih cepat dari yang diinginkan. Hal ini menjadi lebih berbahaya jika jalan menurun memiliki tikungan atau lalu lintas yang padat. Untuk menghindari risiko tersebut, pengendara sebaiknya memanfaatkan engine brake. Engine brake adalah teknik memperlambat kendaraan dengan menurunkan gigi sehingga mesin membantu menahan laju kendaraan. “Engine brake dapat mengurangi beban kerja sistem pengereman, pada kendaraan manual, pengemudi dapat menurunkan percepatan ke gigi yang lebih rendah saat memasuki turunan,” ucap Imun. Sementara pada kendaraan otomatis, pengemudi dapat menggunakan mode gigi rendah seperti L, 2, atau 3. Mode ini dirancang khusus untuk membantu mengontrol kecepatan di jalan menurun. Selain menggunakan engine brake, pengereman sebaiknya dilakukan secara berkala dan tidak terus-menerus. Pengemudi dapat menekan rem dengan cukup kuat untuk mengurangi kecepatan, lalu melepaskannya sejenak agar sistem rem memiliki waktu untuk mendingin. Dengan memahami cara kerja sistem pengereman dan risiko dari kebiasaan mengerem setengah, pengendara dapat meningkatkan keselamatan saat berkendara di jalan menurun. Teknik berkendara yang benar tidak hanya menjaga kondisi kendaraan tetap baik, tetapi juga melindungi keselamatan pengemudi dan pengguna jalan lainnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang