Meningkatnya populasi sepeda motor listrik di Indonesia, pemilik kendaraan juga perlu memahami karakter baterai lithium-ion yang menjadi sumber tenaga utama. Salah satu karakteristik yang sering disalahartikan sebagai kerusakan adalah berkurangnya kapasitas baterai setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu. Dijelaskan bahwa mengisi dan mengosongkan baterai secara berulang akan menyebabkan kapasitas pengisian penuh berkurang. Penurunan tersebut dianggap merupakan proses alami. EV and RE Senior Researcher Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ganesha Tri Chandrasa, mengatakan, penurunan kapasitas merupakan karakteristik yang dimiliki semua baterai lithium-ion. "Ya, betul sekali. Setiap kali baterai diajak bekerja melalui proses charge dan discharge, terjadi reaksi kimia bolak-balik di dalamnya," kata Ganesha kepada Kompas.com, Senin (20/7/2026). Test ride Honda CUV e: Menurut dia, proses kimia tersebut akan terus berlangsung setiap kali baterai digunakan dan diisi ulang. "Seiring berjalannya waktu, proses ini menyebabkan degradasi fisik pada material elektroda dan pembentukan lapisan pasivasi (SEI layer) yang makin tebal," ujarnya. Ganesha menjelaskan, penurunan kualitas baterai umumnya diukur menggunakan parameter cycle life atau jumlah siklus pengisian dan pengosongan. "Proses degradasi ini diukur dalam cycle life (jumlah siklus)," katanya. Akibatnya, meski indikator pada pengisi daya tetap menunjukkan baterai telah terisi 100 persen, waktu penggunaan kendaraan akan semakin pendek dibandingkan saat masih baru. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat Selain itu, kemampuan baterai melepaskan daya juga akan menurun secara bertahap seiring pemakaian. Durasi penggunaan pun bisa menjadi lebih singkat ketika baterai bekerja pada suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Karakteristik Ganesha mengatakan, usia pakai baterai sangat bergantung pada jenis kimia yang digunakan. "Baterai lithium-ion rata-rata bertahan antara 500 hingga 2.000 siklus penuh, tergantung kimia baterainya, seperti NMC atau LFP, sebelum kapasitas maksimalnya turun hingga sekitar 80 persen dari kondisi baru," ujarnya. Artinya, semakin sering baterai mengalami siklus pengisian dan pengosongan, kemampuan menyimpan energi secara perlahan akan berkurang. Foto: dok Dolland Motor Electric Kondisi ini tidak bisa dihindari karena merupakan bagian dari proses penuaan alami baterai lithium-ion. Meski demikian, penurunan kapasitas tersebut umumnya berlangsung secara bertahap. Penggunaan yang wajar serta kebiasaan pengisian daya yang benar, membuat jangka waktu baterai motor listrik cukup panjang sebelum kapasitasnya turun ke tingkat yang dianggap sebagai akhir masa pakainya. NMC dan LFP Istilah NMC dan LFP merujuk pada jenis material kimia yang digunakan pada katoda baterai lithium-ion. NMC merupakan singkatan dari Nickel Manganese Cobalt. Baterai jenis ini umumnya memiliki kepadatan energi (energy density) yang lebih tinggi sehingga mampu menyimpan energi lebih banyak dalam ukuran yang sama. Test ride motor listrik Alva N3 Karena itu, baterai NMC banyak digunakan pada motor maupun mobil listrik yang mengutamakan jarak tempuh. Namun, baterai NMC umumnya memiliki usia siklus yang lebih pendek dibandingkan LFP, serta biaya produksinya lebih tinggi karena menggunakan kandungan nikel dan kobalt. Sementara itu, LFP adalah singkatan dari Lithium Iron Phosphate. Baterai jenis ini dikenal lebih stabil terhadap suhu tinggi, memiliki usia pakai lebih panjang, serta relatif lebih aman dari risiko panas berlebih (thermal runaway). Di sisi lain, kepadatan energi baterai LFP lebih rendah dibandingkan NMC. Akibatnya, untuk kapasitas yang sama ukuran atau bobot baterainya biasanya lebih besar. Secara umum, baterai NMC memiliki cycle life sekitar 500 hingga 1.000 siklus, sedangkan baterai LFP dapat mencapai 2.000 siklus atau bahkan lebih, tergantung desain baterai, sistem manajemen baterai (BMS), serta pola penggunaan.