JAKARTA, KOMPAS.com - Pada sepeda motor listrik, hubungan antara beban dan kapasitas menjadi faktor penting yang menentukan performa sekaligus usia pakai komponen, terutama baterai. Juru bicara KOSMIK (Komunitas Sepeda Motor Listrik) Indonesia, Hendro Sutono, menjelaskan kapasitas baterai dan kemampuan arus harus lebih besar dari kebutuhan rata-rata penggunaan harian agar sistem tetap bekerja aman dan efisien. “Implikasinya jelas kapasitas harus lebih besar dari kebutuhan rata-rata, kemampuan arus harus memiliki margin terhadap beban puncak, dan manajemen termal harus menjadi bagian dari desain, bukan sekadar tambahan,” ujar Hendro kepada Kompas.com, Minggu (30/3/2026). Indikator pada baterai motor listrik Ia menjelaskan, secara spesifikasi di atas kertas, sebuah sistem motor listrik yang terdiri dari baterai, dan kontroler bisa saja terlihat cukup. Namun, dalam penggunaan sehari-hari kondisinya berbeda, karena motor listrik sering menghadapi situasi setop-and-go, akselerasi, hingga beban yang berubah-ubah. Karena itu, jika baterai terlalu sering bekerja mendekati batas kemampuannya, performanya akan lebih cepat menurun, meskipun secara teori masih dalam batas aman. Sebagai gambaran, kata Hendro, motor listrik dengan kebutuhan daya rata-rata 2 kW dan lonjakan hingga 5 kW saat akselerasi akan bekerja cukup berat jika hanya didukung baterai 2 kWh. Dalam kondisi tersebut, baterai bisa bekerja di sekitar 1C saat normal dan lebih dari 2C saat akselerasi. Indikator pada baterai motor listrik Istilah 1C dan 2C sendiri mengacu pada C-rate, yaitu ukuran seberapa cepat baterai digunakan dibandingkan kapasitasnya. Misalnya, 1C berarti baterai habis dalam 1 jam, sedangkan 2C berarti habis dalam 30 menit. "Di atas kertas kondisi ini masih tergolong aman. Namun dalam penggunaan nyata, terutama pola setop-and-go, lonjakan terjadi berulang tanpa jeda cukup untuk menstabilkan suhu," katanya. Sebaliknya, jika menggunakan baterai 4 kWh untuk kebutuhan yang sama, beban kerja menjadi lebih ringan, yakni sekitar 0,5C saat normal dan 1–1,5C saat akselerasi. "Dampaknya, panas yang dihasilkan lebih rendah, tegangan lebih stabil, dan tekanan terhadap sel baterai jauh berkurang," katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang