Gaya berkendara menjadi salah satu faktor yang memengaruhi konsumsi bahan bakar mobil. Pengemudi yang sering melakukan akselerasi secara agresif dan membiarkan mesin menyala terlalu lama berpotensi membuat konsumsi BBM lebih boros. Salah satu cara untuk menjaga efisiensi bahan bakar adalah menerapkan teknik eco-driving. Metode ini mengutamakan pengoperasian kendaraan secara halus, mengatur putaran mesin, serta menghindari penggunaan energi yang tidak diperlukan. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, penerapan eco-driving tidak hanya bergantung pada teknologi kendaraan, tetapi juga perilaku pengemudi ketika berada di jalan. Jika mobil memiliki fitur Eco Drive, pengemudi bisa memanfaatkan mode tersebut untuk mendukung efisiensi. Namun, apabila kendaraan belum dilengkapi fitur tersebut, pengemudi tetap bisa menerapkan teknik berkendara hemat bahan bakar melalui pengaturan pedal gas dan putaran mesin. Test drive Jetour T2 i-DM Tidak Perlu Memanaskan Mesin Terlalu Lama Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah memanaskan mesin sebelum berkendara. Pada mobil modern, pengemudi tidak perlu membiarkan mesin menyala terlalu lama dalam kondisi diam. Jusri mengatakan, mesin kendaraan modern sudah memiliki sistem pelumasan yang memungkinkan oli bersirkulasi dalam waktu relatif singkat setelah mesin dihidupkan. "Cukup sekitar satu menit untuk mobil-mobil modern. Saat ini, oli sudah dapat bersirkulasi dan melumasi komponen mesin dalam waktu relatif singkat. Jika mesin dibiarkan menyala dalam kondisi idle terlalu lama, konsumsi bahan bakar juga akan meningkat," ujar Jusri, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Kebiasaan membiarkan mesin menyala ketika kendaraan tidak bergerak atau idle juga dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar. Oleh karena itu, pengemudi sebaiknya menghindari waktu idle yang tidak diperlukan. Test drive Jetour T2 i-DM Sejumlah mobil modern sudah dilengkapi fitur idle stop yang dapat mematikan mesin secara otomatis ketika kendaraan berhenti dalam kondisi tertentu, misalnya saat menunggu lampu merah. Mesin kemudian kembali menyala ketika pengemudi hendak melanjutkan perjalanan. "Hal tersebut menunjukkan bahwa membiarkan mesin menyala terlalu lama dalam kondisi idle bukanlah tindakan yang efisien, termasuk ketika memanaskan kendaraan," kata Jusri. Atur Injakan Pedal Gas Saat Mulai Bergerak "Ketika mulai berkendara, usahakan menggunakan mode Eco Mode, bukan Sport Mode. Jika kendaraan tidak memiliki fitur Eco Mode, pengemudi tetap bisa menerapkan prinsip eco-driving melalui perilaku berkendara," ujarnya. Ilustrasi kickdown pedal gas Ketika mulai berkendara, pengemudi juga perlu memperhatikan cara menginjak pedal gas. Akselerasi yang terlalu agresif dapat membuat mesin bekerja lebih keras dan meningkatkan konsumsi bahan bakar. Jusri menyarankan agar pengemudi mengawali pergerakan kendaraan secara perlahan, terutama ketika berada di jalan datar. "Caranya, ketika mulai bergerak, kita tidak perlu langsung menginjak pedal gas terlalu dalam. Masukkan gigi, lepaskan rem, kemudian biarkan kendaraan mulai bergerak secara perlahan. Pada jalan yang datar, biarkan roda kendaraan berputar sekitar satu hingga dua putaran sebelum mulai menyesuaikan injakan pedal gas," kata Jusri. Test drive Jetour T2 i-DM Setelah kendaraan mulai bergerak, pengemudi bisa menyesuaikan tekanan pedal gas secara bertahap sesuai kondisi jalan dan kebutuhan tenaga. Jaga RPM Mesin Tetap Rendah Selain mengatur injakan pedal gas, menjaga putaran mesin atau RPM juga menjadi bagian penting dari eco-driving. Jusri menjelaskan, pengemudi sebaiknya menggunakan tingkat gigi yang sesuai dengan kecepatan dan kondisi jalan. Penggunaan gigi yang lebih tinggi pada saat yang tepat dapat membantu menjaga putaran mesin tetap rendah tanpa membebani mesin. Ilustrasi speedometer mobil. "Gunakan pula gigi yang lebih tinggi sesuai dengan kondisi jalan dan kecepatan kendaraan, bukan terus-menerus menggunakan gigi rendah. Tujuannya agar putaran mesin atau RPM tetap rendah," ujarnya. Putaran mesin yang terlalu tinggi dapat membuat konsumsi bahan bakar meningkat. Namun, penggunaan gigi tinggi juga harus disesuaikan dengan kondisi kendaraan. Jika gigi terlalu tinggi pada kecepatan rendah atau ketika membutuhkan tenaga besar, mesin justru bisa terbebani. Dengan demikian, pengemudi perlu menyesuaikan perpindahan gigi dengan kecepatan dan kebutuhan tenaga kendaraan. Pengaturan tersebut dapat membantu mesin bekerja lebih efisien tanpa mengorbankan kenyamanan maupun keselamatan berkendara.