Banyak pemudik dilaporkan tersesat karena terlalu mengandalkan aplikasi navigasi digital seperti Google Maps saat perjalanan. Seperti yang terjadi di Tamanmartani, Kalasan, Sleman, saat kendaraan pemudik tiba-tiba masuk jalan kampung hingga area persawahan karena mengikuti petunjuk Google Maps menuju Gerbang Tol Purwomartani. Warga setempat, Yaka, menyebut kendaraan pemudik melintas di jalan kampungnya karena mengikuti petunjuk Google Maps untuk menuju Gerbang Tol Purwomartani. “Jadi orang-orang itu tadi pakai map semua (Google Maps). Iya mengikuti Google Maps,” katanya dikutip dari , Senin (23/3/2026). Kejadian serupa juga dialami Arif Irawan, pemudik asal Banyumas yang tersesat di kawasan hutan Desa Parunggalih, Pemalang, saat malam hari bersama istri dan anaknya. Ilustrasi Google Maps Ia awalnya sudah memahami rute utama, namun tergoda jalur alternatif dari aplikasi peta. “Namun saat mengecek lewat aplikasi peta, kami tertarik untuk menggunakan jalur lainnya melalui jalan Desa Pabuaran, Kecamatan Bantarbolang, untuk memangkas jarak sekitar 4 kilometer,” kata Arif dikutip dari . Belajar dari kejadian tersebut, pemudik perlu mengetahui cara menggunakan aplikasi peta dengan benar agar tidak tersesat selama perjalanan. Training Director The Real Driving Centre (RDC) Marcell Kurniawan mengatakan, saat akan menggunakan aplikasi peta digital, pastikan melakukan pengecekan rute terlebih dahulu. Bila akan menempuh perjalanan jauh dan mengandalkan aplikasi peta, H-1 sebelum keberangkatan pengemudi sebaiknya mempelajari dan melihat kondisi melalui foto lokasi yang tersedia di aplikasi. “Kemudian jangan lupa untuk update informasi melalui aplikasi peta yang ada saat istirahat,” ucap Marcell kepada Kompas.com belum lama ini. Ketika sudah di perjalanan dan sedang istirahat, Marcell menyarankan pengemudi untuk melihat kembali rutenya, diarahkan ke mana. Bila rute yang disarankan berubah, sebaiknya segera pelajari lagi. “Bila masuk ke daerah dengan sinyal yang minim, jangan andalkan aplikasi. Coba untuk bertanya arah dengan orang sekitar, agar tidak tersesat,” ucapnya. Sementara , Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani menambahkan, pengendara sebaiknya tetap memperhatikan jalan dan wilayah sekitar. Bila tak mampu dilewati maka sebaiknya mengambil jalur alternatif yang diatur melalui aplikasi terkait atau bertanya pada warga. “Bila ada suatu hal yang aneh, terkhusus pada medan jalan, coba lihat map lagi apakah masih on track,” kata Agus. Menurut Agus, jika memang tidak bisa dilewati, jangan dipaksakan. Tanya saja dengan orang sekitar. Kemudian pastikan bahwa aplikasi terkait sudah sesuai dengan moda kendaraan yang telah digunakan. Di samping itu, pada suatu titik tertentu aplikasi navigasi bisa jadi belum melakukan update terkini, apakah jalan sedang dilakukan perbaikan, sudah diperbarui, atau lainnya. “Jangan gegabah dan jangan percaya 100 persen pada aplikasi peta. Tetap selalu waspada,” ucapnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang