Menghemat bahan bakar kendaraan merupakan aksi yang relevan in this economy. Harga BBM yang melambung membuat siasat hemat berkendara jadi wajib. Tapi, menghemat bahan bakar kendaraan bukan hanya tentang gaya berkendara yang tepat. Kondisi kendaraan itu sendiri memegang peran krusial dalam menjaga efisiensi konsumsi bahan bakar. Mobil yang tidak terawat dengan baik berpotensi membutuhkan energi yang lebih besar untuk beroperasi dan bergerak. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai komponen, mulai dari sistem mesin, sistem penggerak, hingga tekanan angin pada ban. Suzuki Ajak Pengunjung Jajal Eco Driving di GIIAS 2023 Oleh karena itu, perawatan kendaraan menjadi faktor penting dalam upaya penghematan bahan bakar. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa efisiensi bahan bakar seharusnya sudah menjadi perhatian pengemudi bahkan sebelum perjalanan dimulai. Menurutnya, ada tiga fase utama dalam konsep eco-driving. "Eco-driving itu dimulai dari pre-driving, driving time, dan post-driving. Ketiganya merupakan satu rangkaian yang terintegrasi, yang semuanya berkaitan dengan perilaku pengemudi," ujar Jusri. Ia menambahkan bahwa fase pre-driving secara spesifik mencakup perawatan kendaraan. "Perawatan ini mencakup semua komponen yang berkaitan dengan energi, baik yang menimbulkan beban energi maupun yang berpotensi memboroskan energi," kata Jusri. Jaringan diler mobil Honda di Sumatera siap bantu korban banjir Apa saja komponen kendaraan yang perlu diperiksa? Salah satu komponen vital yang memerlukan perhatian adalah fan belt. Komponen ini bertanggung jawab untuk menggerakkan berbagai perangkat pada mesin, sehingga kondisinya harus selalu dipastikan dalam keadaan baik. Fan belt yang kendur atau mengalami kerusakan dapat secara signifikan mengganggu kinerja komponen-komponen yang digerakkannya. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin sangat diperlukan untuk mencegah gangguan saat kendaraan digunakan. Pentingnya menyesuaikan tekanan ban pada jenis dan beban kendaraan. Selain itu, penggantian oli dan suku cadang harus selalu dilakukan sesuai dengan jadwal perawatan yang direkomendasikan oleh pabrikan. Oli yang kualitasnya sudah menurun atau komponen yang mengalami keausan dapat berdampak negatif pada kinerja keseluruhan kendaraan. Dengan perawatan yang tepat, komponen kendaraan diharapkan dapat berfungsi optimal, sehingga energi yang dibutuhkan tidak berlebihan. Test drive Jetour T2 i-DM "Dengan kondisi suku cadang atau kendaraan yang prima, kendaraan dapat bergerak dengan energi yang lebih sedikit, dengan asumsi pengemudi juga memiliki perilaku berkendara yang normal dan ideal," jelas Jusri. Mengapa tekanan ban harus sesuai rekomendasi? Selain kondisi mesin dan komponen kendaraan lainnya, tekanan angin ban juga merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan sebelum memulai perjalanan. Tekanan angin ban yang terlalu rendah dapat meningkatkan hambatan gulir, yang pada gilirannya membuat mesin membutuhkan tenaga lebih besar untuk menggerakkan kendaraan. Interior Jetour T2 i-DM Kondisi ini secara langsung berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar. Sebaliknya, tekanan angin yang terlalu tinggi juga tidak selalu berarti efisiensi yang lebih baik. Tekanan berlebih dapat mengurangi kenyamanan berkendara, memengaruhi daya cengkeram ban, dan meningkatkan beban kerja pada sejumlah komponen kendaraan lainnya. Jusri menekankan bahwa pengemudi perlu memastikan tekanan angin ban sesuai dengan rekomendasi pabrikan, bukan hanya sekadar menambah tekanan hingga ban terasa lebih keras. "Selanjutnya, pastikan tekanan angin ban sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Tekanan angin yang kurang akan membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih besar. Sebaliknya, tekanan angin yang berlebihan juga dapat memengaruhi komponen-komponen kendaraan, seperti bearing, komponen suspensi, dan lainnya," ujarnya. Pemeriksaan tekanan angin sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama sebelum melakukan perjalanan jarak jauh. Pengemudi juga disarankan untuk memeriksa kondisi fisik ban, termasuk tingkat keausan dan potensi kerusakan, demi menjaga keselamatan berkendara. Mengapa tidak boleh membawa beban yang tidak diperlukan? Kebiasaan membawa barang-barang yang tidak diperlukan di dalam mobil juga harus dihindari. Barang-barang yang menumpuk di bagasi atau kabin akan menambah bobot kendaraan. Penambahan bobot ini secara otomatis akan membuat mesin membutuhkan energi yang lebih besar untuk menggerakkan kendaraan, yang berujung pada peningkatan konsumsi bahan bakar. Jusri menyarankan agar pengemudi memeriksa kembali barang bawaan sebelum memulai perjalanan. Barang-barang yang tidak berkaitan dengan kebutuhan perjalanan sebaiknya dikeluarkan dan disimpan di rumah atau garasi. Selain membantu mengurangi beban kendaraan, kebiasaan ini juga berkontribusi dalam menjaga kabin dan bagasi tetap rapi. "Barang-barang yang tidak diperlukan selama perjalanan, seperti barang yang disimpan di bagasi atau kabin, sebaiknya tidak dibawa. Barang-barang tersebut bisa disimpan di rumah atau garasi agar tidak menambah beban kendaraan," kata Jusri. Perawatan kendaraan yang dilakukan secara berkala, pemeriksaan tekanan angin ban yang sesuai, serta mengurangi beban yang tidak diperlukan merupakan bagian integral dari upaya menerapkan eco-driving. Dengan kondisi kendaraan yang prima, pengemudi dapat mengoptimalkan efisiensi bahan bakar sekaligus memastikan komponen kendaraan bekerja sesuai fungsinya.