Penjualan motor listrik di Indonesia menunjukkan perlambatan tajam pada 2026. Hingga Agustus tahun ini, penjualan baru mencapai belasan ribu unit, jauh di bawah capaian tahun-tahun sebelumnya ketika insentif pemerintah masih menopang permintaan. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi mengatakan, perkembangan motor listrik di Indonesia sebenarnya telah dimulai sekitar satu dekade yang lalu. Pada tahap awal, sebagian besar aktivitas industri masih berfokus pada penelitian dan pengembangan (R&D), uji coba, serta pengenalan teknologi kepada pasar. Presiden Prabowo Subianto saat acara pluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026). “Motor listrik itu mulai diproduksi dan dipakai sejak tahun 2017. Tapi tahun 2017 mungkin masih banyak buat R&D, buat trial error, test the water, jadi masih sedikit,” ujar Budi, kepada Kompas.com, Senin (24/8/2026). Seiring waktu, penjualan mulai meningkat dan mencapai level yang lebih tinggi pada 2023 hingga 2025. Namun, memasuki 2026, laju penjualan kembali melemah. Pernah Tembus 77.000 Unit Budi mencatat, salah satu lonjakan penjualan terjadi pada 2023 setelah pemerintah memberikan bantuan pembelian sepeda motor listrik. Pada tahun tersebut, penjualan mencapai sekitar 62.000 unit dengan dukungan program pemerintah. Angka tersebut kemudian meningkat pada 2024. Dengan adanya bantuan pemerintah, penjualan motor listrik mencapai sekitar 77.000 unit. Booth motor listrik Yadea di PRJ 2026 Menariknya, pasar masih mampu mencatat penjualan yang relatif tinggi pada 2025 meskipun tidak lagi mendapatkan bantuan pembelian, insentif, maupun subsidi. Penjualan pada tahun tersebut masih mencapai sekitar 60.000 unit. “Artinya, kalau di tahun 2024 masih ada subsidi sampai dengan 77.000 unit, tapi tahun 2025 tidak ada subsidi. Tapi kami masih mencapai angka 60.000 unit,” kata Budi. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap motor listrik sebenarnya telah mulai terbentuk. Tanpa subsidi sekalipun, industri masih mampu menjual puluhan ribu unit dalam setahun. Keseruan pengunjung Jakarta Fair 2023 yang mencoba melakukan cek penerima subsidi motor listrik Rp 7 juta dari pemerintah 2026 Melambat, Industri Diminta Lebih Agresif Kondisi berbeda terlihat pada 2026. Hingga Agustus, penjualan motor listrik baru mencapai hampir belasan ribu unit. Budi menilai capaian tersebut menjadi perhatian bagi industri. Pasalnya, angka penjualan hingga Agustus 2026 masih jauh dari capaian pada 2024 maupun 2025. “Dan ironi memang, tahun 2026 sampai dengan bulan Agustus, ini baru mencapai hampir 19.000 unit. Ini adalah data penjualan motor listrik berdasarkan data SRUT yang dikeluarkan Kemenhub,” ujarnya. Booth motor listrik Rakata di pameran PEVS 2024 Untuk diketahui, angka tersebut merupakan data penjualan berdasarkan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Di tengah perlambatan tersebut, Budi melihat industri perlu meningkatkan agresivitas untuk mendorong pertumbuhan pasar. Inovasi dari produsen dinilai penting untuk menarik minat masyarakat sekaligus mempercepat penetrasi motor listrik. Ia menilai upaya industri untuk menciptakan skema, produk, dan pendekatan baru kepada konsumen akan menjadi salah satu faktor penting untuk menghidupkan kembali pertumbuhan pasar motor listrik.