JAKARTA, KOMPAS.com — Davide Brivio bukan nama asing di dunia MotoGP. Ia dikenal sebagai salah satu manajer tim paling berpengaruh dan dihormati di paddock kelas premier. Brivio pernah membawa Yamaha meraih gelar dunia bersama Valentino Rossi, kemudian sukses mengantarkan Suzuki menjadi juara dunia melalui Joan Mir pada 2020. Para pebalap memacu sepeda motor mereka saat memulai sesi Sprint Race MotoGP Indonesia 2025 di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (4/10/2025). Pebalap Aprilia Racing Marco Bezzecchi menjuarai sesi tersebut dengan finis tercepat pertama dengan total waktu 19 menit 37,047 detik disusul pembalap BK8 Gresini Racing MotoGP Fermin Aldeguer di posisi kedua dan (kiri) dan pembalap Trackhouse MotoGP Team Raul Fernandez di posisi ketiga. ANTARAFOTO/Aditya Pradana Putra/nz Selain itu, Brivio juga sempat meninggalkan MotoGP untuk berkarier di Formula 1 selama tiga tahun, sebelum saat ini kembali sebagai bos tim Trackhouse di MotoGP. Brivio ia menilai persaingan MotoGP saat ini sebenarnya sudah baik, namun masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dari sisi format akhir pekan balapan. “Dari sisi olahraga, saya rasa persaingan di MotoGP sudah bagus. Tentu saja, selalu bisa ditingkatkan, mungkin saya akan memperbaiki formatnya,” kata Brivio dikutip dari https://www.crash.net/motogp/news/1087808/1/how-davide-brivio-would-improve-motogps-weekend-format-split-qualifying, Rabu (24/12/2025). Menurutnya, salah satu aspek terpenting yang perlu dikaji ulang adalah format kualifikasi. Davide Brivio bergabung dengan Trackhouse Racing MotoGP Saat ini MotoGP menggunakan satu sesi kualifikasi untuk menentukan posisi start Sprint Race dan balapan utama Grand Prix sekaligus. “Secara pribadi, saya akan memisahkan kualifikasi. Satu kualifikasi khusus untuk Sprint, dan satu lagi untuk balapan Grand Prix, “Mungkin memang sulit dimasukkan ke jadwal, tapi saya akan melakukannya, karena Anda tidak bisa mempertaruhkan seluruh akhir pekan hanya pada Jumat sore,” jelasnya. Saat ini, sistem yang berlaku di MotoGP menempatkan tekanan besar pada pebalap sejak hari Jumat. Pada sesi latihan Jumat, sepuluh pebalap tercepat langsung lolos ke Q2, sementara sisanya harus berjuang di Q1 pada Sabtu dan hanya dua pebalap terbaik yang berhak menyusul ke Q2. Para pembalap saling menyalip dan memacu motornya untuk memperebutkan posisi pertama pada ajang MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, NTB pada Minggu (5/10/2025). Event balap internasional ini merupakan tahun keempatnya digelar di Indonesia. Hasil akhir kualifikasi inilah yang kemudian dipakai untuk Sprint dan balapan utama sekaligus. Dengan format tersebut, satu kesalahan kecil dapat berdampak dua kali lipat. Jika seorang pebalap gagal mencatat waktu terbaik karena jatuh, terganggu bendera kuning, atau situasi tak terduga lainnya, maka ia tidak hanya start buruk di Sprint, tetapi juga di balapan utama keesokan harinya. Hal inilah yang dinilai merugikan oleh Brivio. Tekanan besar akibat format kualifikasi ini juga sebelumnya dikeluhkan sejumlah pebalap, termasuk pebalap HRC Honda Castrol Luca Marini. Pebalap Honda itu menilai hal-hal tak terduga seperti bendera kuning seharusnya tidak langsung “menghancurkan” seluruh akhir pekan. “Kalau Anda sial karena crash atau bendera kuning, rasanya rugi sekali kalau seluruh akhir pekan jadi rusak,” ujar Marini. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang