JAKARTA, KOMPAS.com - Keselamatan pebalap kembali menjadi perhatian utama dalam ajang MotoGP. Federation Internationale de Motocyclisme (FIM) resmi memperbarui pedoman penanganan gegar otak untuk musim 2026, seiring meningkatnya kesadaran akan risiko cedera kepala di dunia balap. Dalam aturan terbaru tersebut, FIM menegaskan pendekatan yang lebih ketat dengan prinsip “jika ragu, hentikan”. Artinya, tidak ada toleransi terhadap potensi risiko yang berkaitan dengan kesehatan otak pebalap. Dikutip dari Motosan.es, Sabtu (4/4/2026), FIM menyebutkan, gegar otak merupakan cedera serius yang dapat berdampak jangka panjang apabila tidak ditangani dengan tepat. Bahkan, dalam kondisi tertentu, cedera ini dapat memaksa pebalap untuk mengakhiri karier lebih cepat. Karena itu, pebalap yang mengalami gegar otak tidak diperkenankan kembali berlatih atau berlomba sebelum seluruh gejala benar-benar hilang. Selain itu, mereka juga wajib menjalani program pemulihan bertahap dengan pengawasan tenaga medis. Dalam regulasi tersebut juga diatur masa istirahat minimum selama 10 hari sejak diagnosis, dan 20 hari untuk pebalap di bawah umur. Ketentuan ini diterapkan untuk meminimalkan risiko cedera lanjutan yang bisa berakibat fatal. Marc Marquez mengalami high side pada sesi warm up MotoGP Mandalika 2022 Salah satu poin penting dalam aturan baru ini adalah penerapan konsep “9 R”, yang menjadi panduan dalam pencegahan hingga penanganan gegar otak. Tahap awal adalah reduce, yaitu upaya mengurangi risiko dengan penggunaan perlengkapan keselamatan seperti helm dan airbag. Selanjutnya Recognize, yakni mengenali gejala seperti pusing, disorientasi, atau kehilangan ingatan. Jika ditemukan indikasi, maka pebalap harus segera dihentikan (remove) dari aktivitas. Dalam kondisi yang lebih serius, penanganan medis lanjutan (refer) wajib dilakukan secepat mungkin. Setelah diagnosis, pebalap dianjurkan untuk menjalani masa istirahat, terutama dalam 48 jam pertama. Proses pemulihan kemudian dilakukan secara bertahap sesuai kondisi masing-masing, sebelum masuk ke tahap rehabilitasi. Pebalap hanya dapat kembali ke lintasan setelah mendapatkan izin dari tim medis, dan prosesnya dilakukan secara bertahap untuk memastikan kondisi benar-benar pulih. FIM juga menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang, terutama bagi pebalap yang mengalami gegar otak berulang. Dalam kondisi tertentu, opsi pensiun bahkan dapat dipertimbangkan demi menjaga kesehatan pebalap. Melalui pembaruan ini, FIM menegaskan komitmennya dalam meningkatkan standar keselamatan di dunia balap motor. Tidak hanya soal performa di lintasan, tetapi juga memastikan pebalap tetap terlindungi dari risiko jangka panjang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang