ndonesia masih mempertahankan perannya sebagai salah satu basis produksi mobil bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE), di tengah pergeseran industri otomotif global menuju kendaraan elektrifikasi. Hal tersebut tercermin dari kinerja ekspor CBU (Completely Built Up) alias mobil rakitan Indonesia, yang masih cukup kuat sepanjang 2026. Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, tren ekspor pada Agustus 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ilustrasi ekspor mobil “Ada kecenderungan cukup baik ya (ekspor Agustus 2026). Trennya juga cukup bagus dibanding dengan tahun lalu,” kata Kukuh. Menurut dia, masih banyak negara yang mengandalkan kendaraan konvensional sehingga permintaan mobil bermesin ICE tetap terbuka bagi industri otomotif Indonesia. “Karena masih banyak negara yang juga masih pakai mobil konvensional. Itu kan kebanyakan ICE,” ujar Kukuh. Kukuh menyebut sejumlah negara menjadi tujuan utama ekspor kendaraan dari Indonesia, seperti Filipina, Vietnam, Meksiko, negara-negara Timur Tengah, Thailand, hingga Australia. Pabrik Mitsubishi di Indonesia. Ekspor CBU Naik Agustus 2026 Berdasarkan data Gaikindo, ekspor mobil dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) Agustus 2026 mencapai 43.825 unit. Jumlah tersebut naik 1.976 unit atau 4,7 persen dibandingkan Juli yang sebanyak 41.849 unit. Secara kumulatif, ekspor CBU Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 telah mencapai 337.372 unit. Naik 0,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 334.323 unit. Toyota menjadi merek dengan volume ekspor CBU terbesar. Sepanjang Januari-Agustus 2026, Toyota mengirim sekitar 112.890 unit kendaraan atau menguasai 33,5 persen pangsa ekspor dari sembilan merek yang melakukan pengapalan kendaraan utuh. Daihatsu meresmikan pabrik baru Karawang Assembly Plant 2 di Kawasan Industri Surya Cipta, Karawang Timur, Jawa Barat, Kamis (27/2/2025). Pada Agustus saja, ekspor CBU Toyota mencapai 17.759 unit. Angka ini melonjak 3.448 unit atau 24,1 persen dibandingkan Juli yang sebanyak 14.311 unit. Mitsubishi Motors berada di posisi kedua dengan ekspor 10.446 unit. Namun, volumenya turun 1.934 unit atau 15,6 persen dibandingkan Juli yang mencapai 12.380 unit. Sementara itu, Daihatsu menempati posisi ketiga dengan ekspor CBU sebanyak 10.242 unit. Jumlah tersebut naik 1.125 unit atau 12,3 persen secara bulanan. Ilustrasi ekspor mobil. Indonesia Masih Punya Pasar ICE Kinerja ekspor tersebut menunjukkan bahwa industri otomotif Indonesia masih memiliki kekuatan pada produksi kendaraan konvensional. Ketika sejumlah pasar mulai mempercepat adopsi mobil listrik, negara-negara lain masih membutuhkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal. Kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempertahankan posisi sebagai basis produksi dan ekspor mobil ICE, setidaknya dalam masa transisi menuju elektrifikasi. Ilustrasi suasana pameran IIMS 2026 Menurut Kukuh, keberadaan kendaraan ICE juga belum akan langsung berakhir meski tren kendaraan listrik terus berkembang. “Dan saya pikir ke depan tuh ICE itu enggak akan hilang,” kata Kukuh. Artinya, industri otomotif nasional masih memiliki ruang untuk mempertahankan pasar ekspor kendaraan konvensional sembari secara bertahap mengembangkan produksi kendaraan elektrifikasi. Dengan basis produksi yang sudah terbentuk dan jaringan ekspor ke berbagai negara, Indonesia memiliki modal untuk tetap menjadi pemain penting dalam rantai pasok otomotif regional, baik untuk kendaraan ICE maupun kendaraan elektrifikasi ke depan.