Produsen kendaraan niaga PT Sokonindo Automobile (DFSK) menanggapi pengadaan kendaraan pikap untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang belakangan menjadi sorotan, terutama setelah muncul kabar adanya unit yang diimpor dari India. Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile, Cing Hok Rifin, menyatakan belum diajak berdiskusi terkait kebutuhan kendaraan dalam program tersebut, meski sejumlah agen pemegang merek (APM) di dalam negeri dinilai memiliki produk yang dapat memenuhi kebutuhan operasional di tingkat desa. “Sebagai APM kami tidak pernah dipanggil atau diajak diskusi terkait program ini. Tiba-tiba kami membaca di berita bahwa kendaraan sudah masuk,” ujar Rifin saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (16/3/2026). Menurut dia, sejumlah pihak, termasuk kalangan industri otomotif dan anggota DPR, juga sempat mempertanyakan proses pengadaan tersebut karena informasi mengenai spesifikasi dan proses pemilihannya tidak disampaikan secara terbuka kepada seluruh pelaku industri. Selain itu, DFSK juga menyoroti spesifikasi kendaraan yang disebut mensyaratkan penggerak empat roda (4x4). Padahal, untuk operasional koperasi desa yang umumnya tidak menempuh perjalanan lintas provinsi atau medan ekstrem, kendaraan dengan penggerak dua roda (4x2) dinilai sudah memadai. “Kalau melihat kebutuhan operasional koperasi desa, sebenarnya 4x2 sudah cukup. Tidak selalu harus 4x4,” kata dia. Dari sisi harga, perbedaan spesifikasi tersebut juga berdampak signifikan. Pikap 4x2 disebut bisa dijual sekitar Rp 150 juta, bahkan berpotensi lebih murah jika diberikan harga khusus. Sementara kendaraan dengan penggerak 4x4 biasanya berada pada kisaran harga yang jauh lebih tinggi. DFSK Gelora E “Kalau 4x2 mungkin sekitar Rp 150 juta, bahkan bisa lebih rendah jika diberikan special price. Sedangkan 4x4 tentu jauh lebih mahal,” ujarnya. DFSK menilai penggunaan kendaraan dengan spesifikasi yang lebih sederhana berpotensi membuat anggaran pengadaan menjadi lebih efisien, mengingat program tersebut berkaitan dengan penggunaan dana negara dan volume pengadaan yang cukup besar. Di sisi lain, perusahaan juga menekankan pentingnya kesiapan layanan purna jual untuk mendukung operasional kendaraan yang akan digunakan oleh koperasi desa di berbagai daerah. DFSK sendiri mengklaim telah memiliki fasilitas produksi di Indonesia serta jaringan diler yang tersebar di 27 provinsi, sehingga dinilai mampu mendukung kebutuhan perawatan dan suku cadang kendaraan di tingkat daerah. “Pabrik kami sudah ada di Indonesia, jaringan diler juga tersebar di berbagai provinsi. Jadi dari sisi after sales sebenarnya kami siap,” kata dia. Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, DFSK juga menyebut beberapa produk kendaraan niaga yang diproduksi di Indonesia sebelumnya telah diekspor ke sejumlah negara, seperti Malaysia, Timor-Leste, dan Sri Lanka. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang